Daun di Musim Gugur Pada suatu pagi hari di sebuah musim gugur, tampak seorang anak bekerja menyapu halaman luar sebuah asrama. Pohon-pohon yang rindang di sekitar situ tampak berguguran daunnya. Walaupun bekerja dengan rajin dan teliti menyapu dedaunan yang rontok, tetap saja halaman dikotori dengan ranting dan daun.
"Aduh capek deh. Biarpun menyapu dengan giat setiap hari tetap saja besok kotor lagi. Bagaimana caranya ya supaya aku tidak harus bekerja terlalu keras setiap hari?" sambil masih memegang sapu, si anak sibuk memutar otak memikirkan cara yang jitu.
Kepala asrama yang melintas di situ menghampiri dan menyapa, "Selamat pagi Anakku, kenapa kamu melamun? Apa gerangan yang sedang kamu pikirkan?" "Eh, selamat pagi Paman. Saya sedang berpikir mencari cara bagaimana supaya halaman ini tetap bersih tanpa harus menyapunya setiap hari. Dengan begitu kan saya bisa mengerjakan yang lain dan tidak harus melulu menyapu seperti sekarang ini."
Sambil tersenyum si paman menjawab, "Bagaimana kalau kamu coba menggoyangkan setiap pohon agar daunnya jatuh lebih banyak. Siapa tahu, dengan lebih banyak daun yang gugur, paling tidak besok daunnya tidak mengotori halaman dan kamu tidak perlu menyapu." "Wah ide Paman hebat sekali!" segera dia berlari mendekat ke batang pohon dan menggoyang-goyangka n sekuat tenaga. Semua pohon diperlakukan sama, dengan harapan, setidaknya besok dia tidak perlu menyapu lagi. "Lumayan bisa istirahat satu hari tidak bekerja," katanya dalam hati dengan gembira.
Malam hari si anak pun tidur dengan nyenyak dan puas. Ketika bangun keesokan harinya, cepat-cepat dia berlari keluar kamar. Seketika harapannya berubah kecewa saat melihat halaman yang kembali dipenuhi dengan rontokan daun-daun. Saat itu pula paman sedang ada di luar dan memperhatikan ulahnya sambil berkata, "Anakku, musim gugur adalah fenomena alam. Bagaimanapun kamu hari ini bekerja keras menyapu daun- daun yang rontok, esok hari akan tetap ada daun-daun yang rontok untuk di bersihkan. Kita tidak bisa merubah kondisi alam sesuai dengan kemauan kita. Daun yang harus rontok, tidak bisa ditahan atau dipaksa rontok. Maka jangan kecewa karena harus bekerja setiap hari. Nikmati pekerjaanmu dengan hati yang senang, setuju?" kata si paman memberikan sebuah pelajaran hidup yang begitu berarti.
"Setuju paman. Terima kasih atas pelajarannya, " segera dia berlari menghampiri sapunya.
Pembaca yang budiman, Kalau kita bekerja dengan suasana hati yang tidak gembira, maka semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa berat dan mudah timbul perasaaan bosan.
Pepatah mandarin mengatakan:
Jin tian de shi qing jin tian zuo, Ming tian hai you xin gong zuo. Selesaikan pekerjaaan hari ini dengan baik, besok masih ada pekerjaan baru yang harus diselesaikan.
Kalau kita telah mampu menikmati setiap pekerjaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, maka setiap hari pasti menjadi hari kerja yang membahagiakan dan setiap besok menjadi harapan yang menggairahkan, sehingga kita boleh dengan bangga mengatakan bahwa bekerja adalah ibadah...
Sumber: Daun Di Musim Gugur oleh Andrie Wongso
Cinta tanpa Syarat
Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."
Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.
Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul `bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca- kaca mengenang kembali saat itu.
Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi.... kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."
Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."
Pembaca yang budiman, Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.
Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.
Sumber: Cinta Tanpa Syarat oleh Andrie Wongso
True story : Catatan Seorang Pramugari Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton. Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini. Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat. Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung. Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya. Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis. Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya. Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut. Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang. Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
sumber: tidak diketahui
Perjuangan Siti di Pelataran Parkir Wanita itu memiliki nama yang indah. Siti Gandaria. Umurnya sudah melewati kepala empat, tepatnya 48 tahun. Di Kota Langsa, sebagian besar warga di sana mengenalinya. Karena setiap kali memarkirkan sepeda motor atapun mobil di sekitar Jalan Teuku Umar, ia akan selalu menghampiri. “Pak, tanda parkirnya,” katanya seraya menyerahkan selembar potongan kertas berwarna hijau. Pekerjaan sebagai tukang parkir, sudah dijalaninya selama empat tahun. Siti mengaku tak punya pilihan. Suaminya sejak dulu tak punya pekerjaan tetap, sehingga setoran untuk belanja dapur kerap kali tak lancar diterimanya. “Kerja suami saya mocok-mocok pak. Kadang ada, kadang nggak. Sementara anak kami ada lima orang. Yang kecil masih tujuh tahun,” ujarnya lirih. Seketika mata Siti menerawang ke atap-atap pertokoan. Ia seperti sedang memutar kembali setiap episode kegetiran hidup yang telah dijalaninya bersama sang suami dan lima orang anak-anaknya. “Sebentar ya pak,” ujarnya. Siti bangkit sambil meraih selembar kardus bekas kotak mie instan yang ditumpuk di sisinya. Sebuah sepeda motor yang baru diparkir oleh pemiliknya, langsung ditutup dengan kardus itu. Tak perlu baginya untuk meminta izin pada si pemilik sepeda motor. Itu merupakan pelayanan gratis yang diberikan kepada setiap pemilik kendaraan roda dua yang parkir di areal yang dijaganya. Tak lama pemilik sepeda motor itu kembali lagi. Siti bergegas mengambil kardus miliknya. Si pemilik kendaraan merogoh kocek. Sekeping uang logam Rp 500 diberikan pada Siti. “Terima kasih pak,” katanya sambil menganggukkan kepala. Begitulah cara Siti bekerja. Warga Desa Alue Dua, Kecamatan Langsa Barat ini mengaku tak peduli meski sering kali ditatap hina oleh warga lain yang melihatnya. Bagi Siti, setiap keeping uang logam yang dikumpul dari jam ke jam, merupakan rezeki yang dititipkan Allah bagi keluarganya. “Tapi dulu saya sempat merasa risih. Lama kelamaan saya jadi terbiasa dan tidak peduli pada tatapan orang,” katanya. Pekerjaan sebagai tukang parkir, di Aceh memang belum lazim dilakoni kaum perempuan. Seperti halnya tukang ojek dan supir angkot. Tapi di kota-kota besar, dimana mencari setiap selembar rupiah lebih sulit dari pada di daerah ini, pekerjaan berat tak jarang dilakukan oleh kaum wanita. Siang itu, Siti baru berhasil mengumpulkan sekitar Rp 17 ribu. Hasil bekerja sejak pagi itu lebih sedikit dari hari sebelumnya. “Biasa pak, kalau hujan ya cuma segini paling banyak”. Saat sedang merapikan lembar demi lembar uang pecahan seribu rupiah, seorang pengendara sepeda motor berhenti persis di depan Siti. “Kemari kamu” suara pria itu lantang memanggil. Siti bangkit dan berlari kecil menghampirinya. Siti langsung menyerahkan uang Rp 15 ribu pada pria itu.”Kok dikit hari ini?” Siti terdiam sesaat. ”Maaf pak, tadi pagi kan hujan,” jawabnya terbata. Pria itu bergegas tanpa berkata apapun. “Itu tukang kutip parkir. Saya harus menyetor Rp 15 ribu setiap harinya pada pengurus Pemuda Pencasila,” katanya. Yang tersisa di kantong Siti sekarang hanya sekitar dua ribuan. Sebelum melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang parkir, Siti mengambil bekal yang dibawa dari rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 wib, saatnya untuk makan siang.” Makan dulu pak, mumpung nggak ada yang parkir,” ujarnya. Siti masih punya beberapa jam sebelum ia harus kembali ke rumah untuk memasak bagi anak-anak dan suaminya. Ia berharap, menjelang sore masih ada warga yang datang dan memarkirkan kendaraannya. Siti harus lebih giat dan sabar menunggu. Maklum, empat orang anaknya saat ini masih duduk di bangku sekolah. Dua diantaranya dibangku SMA dan dua lainnya di bangku SMP. Sedangkan yang bungsu tidak sekolah. Sebagai tukang parkir, Siti tak bisa berharap banyak. Bila sedang ramai dan cuaca cerah, paling banter ia hanya bisa membawa pulang Rp 20 ribu. Sementara bila sedang hujan, penghasilannya pun melorot.”Saya orang bodoh pak, sekarang ini saya sedang berjuang untuk masa depan anak anak saya agar tidak bodoh. Saya jalani ini dengan ikhlas,” katanya. Siti kembali bekerja. Kadang ia berlari, mengejar pemilik kendaraan yang engan membayar. Siti memang sedang berjuang. Ia sedang berjuang melawan kemiskinan. *
The Art of Loving "What a grand thing, to be loved. What a grander thing still, to love." Victor Hugo
Alkisah, ketika manusia diciptakan, Tuhan mempunyai rencana indah. Hati yang ditaruh dalam diri setiap manusia tidak lengkap. Ada yang hanya separuh, ada yang sepertiganya saja, tetapi ada juga yang nyaris penuh.
Sisanya yang lain, justru sengaja dibuat berkeping-keping dan ditaruh dalam diri manusia yang lainnya. Baru setelah itulah, manusia dikirim ke muka bumi. Dan inilah yang kemudian menjadi tugas manusia. Yakni mencari dan mendapatkan kembali kepingan hatinya justru melalui hubungan dan perhatiannya kepada orang lain. Mereka yang terobsesi mencari pada dirinya saja akan sia-sia.
Namun, inilah permainan yang menarik, melalui cinta dan perhatian kita pada orang lainlah, maka hati kita menjadi utuh kembali. Menariknya pula, kita tidak pernah tahu siapa yang menyimpan kepingan hati kita. Kita hanya bisa mencoba dan berusaha. Kita harus ingat bahwa kita pun menyimpan kepingan-kepingan hati orang lain yang harus kita berikan kepada orang yang layak mendapatkannya. Inilah bagian dari 'seni mencinta' bagi manusia di dunia.
Pembaca, minggu ini adalah minggu di mana kita merefleksi akan pentingnya cinta sebagai salah satu motivasi besar untuk kehidupan kita. Minggu di mana kita merayakan Valentine Day, hari kasih sayang. Suatu penelitian soal cinta yang menarik dari majalah Psychology Today pada 2002 mengatakan bahwa jiwa kita membutuhkan cinta, sama seperti halnya tubuh kita membutuhkan oksigen. Mereka yang kekurangan cinta cenderung akan menjadi mudah depresi.
Bahkan, dikatakan bahwa cinta adalah obat anti-depresant terbaik di dunia! Realita justru menemukan bahwa mereka yang gampang depresi tidak mudah untuk mencintai, baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka ini jadi sangat berpusat pada diri mereka sendiri. Namun, inilah yang justru menyebabkan mereka dijauhi orang.
Cinta merupakan seni penting dalam kehidupan kita. Bukan pada manusia saja, bahkan bagi hewanpun, cinta merupakan kunci kehidupan penting. Beberapa penelitian dengan kucing menunjukkan bahwa kucing-kucing yang selama tiga bulan pertama tidak pernah bersentuhan dengan induknya atau manusia, akhirnya akan menjadi kucing liar.
Beberapa penelitian lain dengan bayi manusia menunjukkan bahwa anak- anak yang jarang bersentuhan dengan ibunya menjadi lebih kurang merasa aman serta kurang terbuka dalam mengekspresikan perasaannya kepada orang lain.
4 Tip cinta
Sayangnya, berbagai film dan cerita romantik membuat kita agak kacau memahami soal cinta. Karena itu ada beberapa landasan penting soal cinta, yang perlu kita bangun kembali.
Pertama, mari bedakan antara cinta dan sensasi. Cinta adalah sesuatu yang lama serta mendalam, sedangkan sensasi hanya sesaat. Banyak orang berusaha mencari ke sana ke mari untuk mendapatkan cinta yang spektakuler, yang menyebabkan hidupnya jadi bertualang dari satu orang ke orang lain. Pada dasarnya ini bukanlah cinta, tetapi sensasi.
Hal ini sering jadi penyakit orang-orang terkenal yang ditampilkan dalam berita-berita seputar para selebritas. Saya masih ingat pernah terkagum-kagum dengan perkawinan spektakuler seorang artis dengan pria bule yang kaya dan tampan.
Perkawinannya pun dibuat sangat romantis, pokoknya sempurna. Saat ditanya wartawanpun dia berkata, "Saya yakin telah menemukan cinta sejati saya. Saya merasa dialah soulmate saya". Namun, kenyataannya, beberapa tahun kemudian cinta si artis itu pun meluntur. Konon si artis ini menemukan pria tambatan cintanya yang lain. Mereka pun bercerai. Hal ini lantas memberikan kita pelajaran yang menarik.
Karena itulah kita melihat cinta bukanlah sekadar pesta meriah, cinta juga bukanlah hanya hadiah luar biasa, atau peristiwa yang spektakuler. Bahkan, jauh dari itu, cinta adalah sesuatu yang wajar, mendalam, menyentuh relung hati yang paling dalam, rasional serta membutuhkan komitmen panjang.
Bandingkan dengan kisah cinta artis pop Celine Dion yang pada 2000 memutuskan mundur sementara dari panggung musik, karena suaminya Rene Angelil menderita kanker. Beberapa tahun, dia bahkan hanya menghabiskan waktu merawat suaminya. Padahal, tentu saja Celine Dion bisa meneruskan karirnya atau bahkan mencari pria lain, sekalipun. Namun, inilah bukti cinta yang dia perjuangkan demi orang yang dicintainya. Maka, rasanya sangat pantaslah kalau Celine Dion melantunkan lagunya The Power of Love. Dia bukan hanya menyanyikan, tetapi juga membuktikannya.
Kedua, cinta bukanlah proses yang pasif. Banyak film dan cerita novel yang seolah-olah mengajari bahwa cinta adalah sesuatu yang kebetulan dan orang hanya menunggu ketika momennya tiba.
Berbalikan dengan semua ini, majalah Psychology Today justru meneliti bahwa mereka yang sehat hubungannya dengan pasanggannya bukanlah yang pasif, tetapi yang justru aktif memberi dan membagikan kasih sayangnya. Sebaliknya, mereka yang depresi lebih sering menunggu dan pasif dalam hal mengekspresikan perasaan ataupun kasih sayangnya.
Tidaklah mengherankan kalau dalam kesimpulan majalah Psychology Today tersebut dikatakan bahwa cinta adalah suatu keterampilan yang sangat penting untuk dipelajari. Saatnya kita belajar juga seni mencintai dan belajar secara aktif memberikan kasih kita kepada orang-orang sekeliling kita, maka kita pun akan mendapatkannya dalam bentuk balasan berkali-kali lipat.
Ketiga, cinta bukanlah bisnis. Banyak orang mencintai dengan harapan akan mendapat balasan tertentu. Akibatnya, saat tidak mendapatkan apa yang diharapkan, orang menjadi mudah kecewa. Begitu pula, ada beberapa orang yang melakukan tuntutan atas nama cinta. "Kalau kamu mencintai, kamu pasti mau begini..." Ini adalah bentuk manipulasi cinta dan ini bukanlah cinta tetapi sebuah transaksi. Dalam cinta yang sesungguhnya kita tidak lagi hitung-hitungan. Bahkan ada banyak kisah di mana justru jika dihitung-hitung secara bisnis, cinta ini merugikan. Namun, ganjarannya adalah kebahagiaan dan inilah yang tak terukur dengan uang.
Keempat, perasaan cinta pun menyehatkan secara fisiologis. Perasaan cinta ternyata menghasilkan suatu zat oksitoksin yang sangat berguna bagi tubuh kita. Zat inilah yang membuat kita merasa nyaman, hangat dan ceria terus. Beberapa obat-obatan terlarang juga menghasilkan zat- zat dengan efek yang mirip. Beberapa penelitian dengan pasangan tua yang banyak memberikan pelukan dan mengungkapkan rasa kasih sayangnya, menunjukkan jumlah zat oksitoksin yang lebih banyak dalam kandungan darah mereka.
Begitu juga anak-anak yang sering mendapatkan pelukan dan ciuman dari orang tuanya, mempunyai kandung oksitoksin yang lebih tinggi. Yang membuat mereka lebih tidak mudah depresi, lebih ceria dan lebih bahagia dalam hidupnya.
"Kata adalah senjata" (Subcomandante Marcos, pejuang Zapatista Brazil) Sumber: The Art of Loving oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency
Buku Telepon Sebuah renungan untuk hari ini... Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.
"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?" Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu..." Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. "Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu. .."
Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini" Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.
"Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!" Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.
"Pak Guru... Pak, aku belum bercerita" Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya. "Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua", ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. "Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?", Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.
"Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah... saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu" Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.
Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan. .. Hahaha" Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?" Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.
Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. "Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak..." Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi"
Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. "Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil.
Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi.Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi.
Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya" Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. "Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti..."
Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragme tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal: "Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun... Sebesar apapun" Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Ulat Kecil Yang Berani "Yong gan de xiao chong"
Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air sehingga sepanjang hidupnya dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tetapi, dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekad memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.
Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang. Katanya dalam hati, "Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi. Mungkin akhirnya aku tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!"
Ketika Si Ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya, "Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah Kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kan?"
Si Ulat pun bertanya kepada Si Kepik yang sok tahu, "Benar Kepik. Aku memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tahu, apa yang ada di depan sana?" "Oh...Aku tahu, jalan ke depan yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku. Dan lebih jauh di sana ada sebuah gua yang gelap yang harus kau lalui. Tetapi, setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, di pintu gua sebelah sana terbentang sebuah tempat yang terang, indah, dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup dengan baik seperti yang kamu inginkan," Si Kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada Si Ulat yang tampak ragu dan ketakutan.
"Kepik, apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana?" Tanya Ulat.
"Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah berjalan. Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!" sambil berteriak penuh semangat, Si Kepik pun meninggalkan ulat.
Pembaca yang budiman,
Memang benar... kemenangan, kesuksesan, adalah milik mereka yang secara sadar, tahu apa yang menjadi keinginannya, sekaligus siap menghadapi rintangan apa pun yang menghadang, serta mau memperjuangkannya habis-habisan melalui cara-cara yang benar sampai mencapai tujuan akhir, yaitu kesuksesan.
Pengertian sukses secara sederhana demikian ini telah di praktikkan oleh manusia sukses berabad-abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori-teori kosong yang rumit. Cukup tahu akan nilai yang akan dicapai dan take action! Ambil tindakan!
Sumber: Ulat Kecil Yang Berani oleh Andrie Wongso
MemaafkanPutu Setia Orang yang tak pernah merasa bersalah dan tak pernah meminta maaf harus kita maafkan. Mantan presiden Soeharto sakit. Jutaan orang sibuk. Puluhan dokter berada di dekatnya dan memasang berbagai mesin. Puluhan tokoh dan pejabat menengok. Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dipenuhi pesawat Hercules, entah siapa yang akan diterbangkan. Puluhan orang memasang tenda dan menaruh kursi di Astana Giribangun, Karanganyar, entah siapa pula yang akan dimakamkan. Soeharto membaik, lalu drop lagi, lalu membaik lagi. Orang-orang bukan lagi sibuk, tapi sudah bingung. Jaksa Agung ke rumah sakit pukul dua dini hari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang lebih awal dari Malaysia, dan Amien Rais menggelar jumpa pers di rumahnya di Yogyakarta, agar kita--biasanya ditambahkan kata-kata "sebagai anak bangsa"--memaafkan Soeharto. Luar biasa beradabnya orang-orang kita, anak-anak bangsa. Orang yang tak pernah merasa bersalah dan tak pernah meminta maaf harus kita maafkan. Dulu, tatkala mantan presiden Soekarno sakit, Soeharto menjadi presiden. Jutaan orang diam. Tak ada puluhan dokter di dekat Bung Karno. Tak ada mesin apa pun, ventilator, pencuci darah, entah apa lagi. Obatnya hanya vitamin B12 dan B Kompleks. Dokter kepresidenan Mahar Mardjono menuliskan resep, tapi obatnya tak kunjung datang. Dokter tak bisa leluasa mengontrol Bung Karno karena ada larangan. Pejabat negeri pun tak ada yang berani datang, bahkan putra-putri Bung Karno dibatasi untuk besuk. Sang Proklamator bukan dirawat di rumah sakit, melainkan di sebuah rumah yang mentereng dari jalan raya, tapi laksana bui di dalamnya. Bung Karno yang sakit dilarang ke luar kamar, padahal ia mantan presiden. Luar biasa biadabnya orang-orang kita, anak-anak bangsa. Tapi, tak ada tokoh, termasuk Amien Rais sekalipun, yang mencoba mengusulkan agar kita--sebagai anak bangsa--meminta maaf kepada Bung Karno. Maaf, memaafkan, saling bermaafan beda nuansanya, meski kata dasarnya sama. Jika ada orang berkata kepada saya, "Maaf lahir batin," saya pun akan menjawab, "Sama-sama, maaf lahir batin pula." Ini hal yang sangat biasa, apalagi pada saat hari raya keagamaan. Begitu pula kalau ada orang berkata, "Maafkan saya, mungkin saya banyak salah," saya pun akan menjawab, "Tak apa-apa, saya juga begitu." Ini pun biasa, ya, namanya basa-basi. Tapi, jika ada orang mencari saya dan berkata, "Saya memaafkan Anda." Saya bisa tersinggung berat: "Apa salah saya, kok, Anda memaafkan saya? Kalau saya punya kesalahan, saya yang meminta maaf kepada Anda. Buktikan dulu kesalahan saya." Nah, bisa gawat jadinya. Pernahkah Pak Harto meminta maaf kepada Bung Karno? Pernahkah Soeharto merasa salah memanipulasi Surat Perintah Sebelas Maret? Pernahkah Soeharto dipersalahkan mendirikan yayasan untuk kepentingan pribadinya? Pernahkah Soeharto dinyatakan salah karena kasus korupsi, kolusi, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya? Kalau tidak, kok, kita memaafkan Soeharto, hanya karena beliau sakit. Apakah orang sakit bisa disembuhkan oleh kata "maaf"? Daripada sibuk, bingung, dan mungkin linglung, lebih baik rasanya kita--sebagai anak bangsa-berinisiatif meminta maaf kepada Bung Karno yang sudah tenang di dunia yang lain dan dimakamkan di tengah-tengah perumahan rakyat biasa di pinggir jalan perkampungan Kota Blitar. Adapun untuk Soeharto, kita tentu memaafkan--karena kita mencoba jadi bangsa beradab dan kita mengamalkan ajaran agama yang benar--jika beliau memang sudah mendapat predikat salah dan meminta maaf atas kesalahannya, entah itu lewat jalur formal (pengadilan), entah jalur informal (kebesaran hati).
koran tempo, minggu 20 jan 2008
Decide or Defeat!
"Whenever you see a successful business, someone once made a courageous decision" Peter Drucker
Pembaca, mudah-mudahan Anda melewati masa liburan akhir tahun yang menyenangkan. Itu yang saya rasakan. Setidak-tidak, setelah melewati setahun yang meletihkan dengan jadwal training, seminar coaching dan personal konseling yang padat, saya berkesempatan lagi berlibur bersama keluarga ke Kuta, Bali.
Dan sewaktu menunggui anak saya bermain di kolam anak-anak, saya berendam di Jacuzzi sambil rileks dan membuka-buka beberapa buku yang dipinjamkan dari perpustakaan hotel. Saat itu, pikiran saya justru tertuju pada sebuah buku anak-anak bergambar. Dan, tak disangka, inilah yang menjadi bahan artikel motivasi untuk saya share-kan pada Anda di awal tahun ini.
Diceritakan dalam buku dongeng bergambar itu kisah tentang kelelawar yang tidak bisa memutuskan, apakah mau bergabung dengan kelompok burung ataukah bergabung dengan kelompok binatang.
Awalnya dikisahkan bahwa kedua kelompok ini sedang berseteru, bersaing dan berkelahi. Karena tidak ingin kalah dan tanggung risiko, maka kelelawar memutuskan menunggu siapa yang menang. Nantinya, kepada kelompok yang menang itulah, kelelawar akan bergabung.
Awalnya burung menang, maka kelelawar pun bergabung dengan burung. Tetapi tatkala burung akhirnya kalah, kelelawar pun berbalik arah bergabung dengan binatang. Namun, akhirnya karena tahu kelakuan kelalawar yang buruk, maka tidak ada satu kelompok pun yang menginginkan kelelawar.
Karena takut dan malu, kelelawar hidup menyendiri di gua yang gelap dan hanya berani keluar di waktu malam. Itulah nasib kelelawar yang tidak mau membuat keputusan yang pasti tentang nasib mereka.
Pembaca, cobalah kita renungkan soal pengambilan keputusan yang pernah Anda lakukan dalam hidup Anda. Ada satu hal yang pasti, bagaimana dan seperti apa kehidupan Anda sekarang, pasti tergantung dari keputusan yang telah Anda buat sebelumnya.
Namun, jangan hanya pikirkan keputusan yang sudah Anda buat, keputusan yang tidak Anda buat pun menjadikan diri Anda seperti sekarang. Dalam realita kehidupan, memutuskan suatu pilihan ataupun tidak mengambil pilihan, itupun suatu keputusan besar.
Cobalah lihat keputusan Anda. Misalnya keputusan di mana Anda bersekolah, di mana Anda bekerja, keputusan siapa yang akhirnya jadi pasangan Anda. Itulah keputusan-keputusan besar Anda. Maka nasib Anda hingga di awal 2008 pasti ditentukan oleh segala keputusan yang bersinergi membentuk kehidupan Anda saat ini.
Jadi, salah satu rumusan sukses yang kita ingin tegaskan dalam kesempatan ini adalah, buatlah keputusan! Kadang kita tidak pernah tahu apakah keputusan kita benar atau salah, tetapi kita harus berani membuat keputusan. Saya pun teringat dengan suatu puisi tentang seorang yang kebingungan di bahwa pohon apel yang rindang. Ia bingung soal apel manakah yang harus ia petik duluan. Semua tampak lezat. Di akhir kisahnya, sangat tragis. Orang itu tidak bisa memutuskan dan akhirnya ia mati kelaparan!
Tiga pelajaran
Kisah kelelawar maupun kisah orang yang mati kelaparan ini mengajarkan kepada kita tiga hal. Pertama, your decision will shape your destiny. Keputusan Andalah yang menentukan nasib Anda sekarang. Sukses atau gagal, mari lihat kembali semua keputusan yang pernah Anda ambil.
Jadi, pikirkanlah bahwa di tahun depan, ada banyak lagi keputusan yang harus Anda ambil, jika Anda menginginkan kehidupan yang lebih baik. Intinya, no decision, no change, no progress. Tanpa keputusan maka tak ada kemajuan berarti yang bakal terjadi. Camkan baik-baik!
Kedua, tidak ada keputusan tanpa risiko. Karena itu, keputusan harus tetap diambil. Tidak mengambil keputusan pun berisiko. Sama seperti yang dikatakan Warren Buffet dalam biografinya, mengutip dari buku yang pernah dibacanya. Ia pun berkata bahwa ia belajar dari keputusan- keputusan yang dibuatnya, termasuk belajar dari keputusan salah yang pernah dibuatnya.
Jika sudah demikian, dapat kita simpulkan bahwa keputusan itu tidak pernah salah. Yang ada hanyalah keputusan yang baik atau kurang baik. Semua keputusan pasti benar, dalam arti selalu mengandung hikmah pembelajaran di dalamnya.
Ketiga, jika sudah membuat keputusan berjuanglah sampai keputusan itu memberikan hasil. Kita baru tahu apakah keputusan itu baik atau tidak, setelah proses perjalanan waktu.
Para guru kebijaksanaan kita sebelumnya selalu mengajarkan pelajaran yang sederhana kepada kita. Ingat. Saat Ciputra memutuskan mengurusi proyek Senen ataupun menyulap pantai Ancol, banyak yang menganggapnya keputusan buruk. Namun, perjuangannya untuk menyukseskan keputusan itu membuahkan hasil yang spektakuler.
Karena itu, pembaca, bagaimana nasib Anda pada tahun ini bisa diramalkan dari keputusan yang segera akan Anda buat ataupun yang tidak Anda buat! Keputusan di mana Anda akan berinvestasi, keputusan dengan siapa Anda akan bermitra. Keputusan siapa yang akan menjadi pendamping Anda. Keputusan strategi apa yang Anda akan jalankan. Itulah yang akan membentuk nasib Anda pada 2008.
Dan jangan lupa, keputusan yang tidak Anda buatpun akan membentuk nasib Anda. Hanya saja, ketika Anda tidak membuat keputusan berarti Anda harus bermain dengan aturan yang diciptakan dari keputusan orang lain.
Akhirnya, mari kita renungkan apa yang diucapkan oleh psikolog terkenal Wiilaim James, "When you have to make a choice and you don't make it, that itself is a choice." (ketika Anda harus membuat keputusan, tetapi Anda tidak melakukannya. Itu sendiri sudah merupakan keputusan). Tergantung Anda mau memutuskan untuk hidup Anda atau membiarkan orang lain yang memutuskan nasib Anda. Selamat Tahun Baru 2008! Sumber: Decide or Defeat! oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency
”Dengan datangnya hari yang baru, datang jugalah kekuatan dan pikiran yang baru.” - Eleanor Roosevelt, Ibu Negara USA, 1884-1962 Semangat Baru Kita baru saja memasuki tahun baru 2008. Ada yang merayakan pergantian tahun baru dengan penuh antusias. Mulai dari yang paling murah dengan menonton secara gratisan pesta kembang api di Tugu Monas hingga menyaksikan perhelatan para artis di hotel bintang lima dengan biaya jutaan rupiah. Tapi ada pula yang menganggap pergantian tahun biasa-biasa saja. Beberapa orang mulai melakukan ancang-ancang menyambut tahun 2008. Ada yang berjanji untuk tidak melakukan suatu kebiasaan buruk yang sering dilakukannya di tahun lalu. Ada yang berjanji untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dibandingkan tahun lalu. Untuk memulai hal yang lebih baik, sejatinya memang tidak perlu menunggu pergantian tahun. Aktor kawakan Denzel Washington jauh-jauh hari sebelum tahun baru berganti, mengatakan, "Untuk memperbarui hidup tak perlu menunggu Tahun Baru." Apa yang dikatakan Denzel memang tidak salah. Pepatah lama mengatakan, “Everyday is a new life”, setiap hari yang akan kita lalui merupakan hidup baru. Tahun 2007 memang tinggal kenangan. Biasanya pada setiap pergantian tahun seringkali kita disarankan untuk melihat dan melakukan introspeksi atas apa-apa yang telah dilakukan di masa lalu. Seandainya saja ada mesin waktu yang bisa menggiring kita ke masa lampau, mungkin kita bisa memperbaiki semua kesalahan yang telah dibuat dan melakukan keputusan yang seharusnya. Sayangnya, hal itu hanya ada di film fiksi “Back To The Future” yang dilakoni Michael J. Fox, sehingga Fox bisa bolak-balik ke masa lampau untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama secara berulang, buatlah hidup ini dengan terencana dan teratur. Sudah seharusnya memang kita membuat resolusi di tahun 2008 ini. Resolusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, ‘putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat’ atau ‘pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan terhadap suatu hal.’ Ada baiknya kita mencontoh kebiasaan bangsa Romawi yang selalu memulai hidup baru dan semangat baru seiring dengan pergantian tahun baru. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan kita dalam membuat resolusi; Buatlah Target dan Rencana Langkah pertama yang diambil dalam membuat resolusi ialah dengan menentukan target yang akan kita tuju di tahun 2008 ini. Buatlah rencana-rencana yang mengiringinya agar target tersebut dapat terlaksana. Misalkan kita ingin membuat satu judul buku untuk diterbitkan, bisa fiksi atau non fiksi. Buatlah rencana-rencananya, misalnya dalam satu bulan harus sudah selesai sekian bab. Minggu pertama di bulan pertama, misal harus dilakukan riset terhadap satu kasus. Bertindaklah Konsisten Agar apa yang telah disepakati di awal kita tidak lupa, ada baiknya kita mencatat semuanya itu dalam suatu catatan tertulis. Anda bisa melakukannya di buku agenda, telepon seluler, atau bahkan Anda bisa melakukannya dengan menempelkan kertas ditempat yang sering Anda lihat, di komputer Anda misalnya. Taati apa-apa yang telah Anda buat. Dalam melakukan aktivitas, kita harus bisa menentukan prioritas-prioritas yang sejalan dengan target, dan menyingkirkan segala aktivitas yang tidak ada kaitannya dengan target. Kita pun harus tegas terhadap diri sendiri dan tidak terpancing terhadap godaan-godaan lain. Jangan jadikan godaan tersebut sebagai hal yang penting, yang pada akhirnya bisa menggagalkan atau memundurkan target yang telah disepakati, yang berakibat target dikejar dengan terburu-buru dengan kualitas hasil yang rendah. Fleksibel Patut diingat bahwa Anda harus siap bila ternyata target bisa meleset dari rencana yang telah disepakati sebelumnya. Rencana-rencana yang telah ditetapkan semula dapat menyimpang karena dua hal, pertama karena kelalaian kita sendiri dan kedua, karena force majeur, sesuatu hal terjadi yang tidak kita kehendaki di luar kemampuan kita. Misalnya saja pada bulan Maret harus sudah diselesaikan sekian bab, tapi ternyata Anda terkena penyakit malaria yang menyebabkan Anda harus dirawat selama beberapa hari atau beberapa bulan di rumah sakit. Sudah pasti rencana-rencana berikutnya akan mundur dari waktu yang telah ditetapkan. Tak perlu patah semangat. Dalam hal ini, Anda bisa membuat rencana-rencana baru yang telah diperbaiki. Atau bisa juga melakukan rencana yang baru agar target awal tetap tercapai dengan melakukan fleksibilitas terhadap waktu yang tersisa. Bagaimana caranya? Almarhum Kemmons Wilson, pendiri Holiday Inn, wirausahawan yang sukses, tapi tidak lulus SMA, punya resep yang menarik. Ketika Wilson diundang untuk menyampaikan pidato wisuda di sekolah ketika ia pernah belajar, Wilson mengatakan, "I really don't know why I'm here. I never got a degree, and I've only worked half-days my entire life. I guess my advice to you is to do the same. Work half-days every day. And it doesn't matter which half-the first twelve hours or the second twelve hours." “Saya tidak mengerti kenapa saya bisa berada disini. Saya tidak pernah tamat SMA dan saya hanya bekerja setengah hari sepanjang hidup saya. Saya ingin menyarankan kepada Anda untuk melakukan hal yang sama. Bekerjalah setengah hari dalam sehari, tidak penting apakah Anda memilih dua belas jam yang pertama atau dua belas jam yang kedua.” Anda diberikan waktu 24 jam sehari. Gunakanlah waktu tersebut secara optimal. Kalaupun akhirnya target Anda meleset, tak perlu kecewa. Buatlah resolusi baru. Resolusi dibuat tentu tidak perlu menunggu tahun baru. Tetap semangat! Selamat Tahun Baru 2008! "Semangat Baru" oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta.
sumber: milist resonansi
Sekolah Hidup Susah Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh "imunisasi".
Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.
Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena memiliki "virus" n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang tinggi.
"Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul- modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.
Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.
Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki "virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai "virus" n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di mata Tuhan.
Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan menyuntikkan "vaksin" hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa. Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan Dikutip dari: "resonansi_2002" <resonansi_2002@yahoo.co.uk>
Tolong Maafkan Aku, Kawan Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasaterjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan 'hanya' karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.
Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.
******
Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk 'menyerahkan' sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, "Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami."
Bukankah Rasulullah pernah berkata, "Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu".
Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.
Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada. Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku 'ada' di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan- kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu. Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.** Sumber: Unknown Catatan: Cerita ini pernah dimuat di milis resonansi pada tanggal 29 Oktober 2005, 12 Nopember 2004, dan 2 September 2002
saya sedih sekali membaca kisah ini. tapi saya tidak tahu apakah ini kisah nyata atau bukan. saya ingin berbagi dengan rekan rekan, karena bagaimanapun juga, kita perlu untuk menahan sabar dan tidak menghakimi seorang anak sekejam itu. siapkan tisue atau sapu tangan sebelum menuntaskan membaca kisah ini.
selamat membaca.
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya,ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya...kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Thaipusam. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan. 'Tak tahu...!" "Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abahhh...cantik kan ! katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa ??? Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam..." jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan. Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah. "Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Abah...Mama. ..Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah...sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Ita juga sayang Kak Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. "Abah...kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil...Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya. Sumber: unknown
Sebuah Jendela Untuk Melihat Dunia Coba bayangkan suatu Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar lembut. Udara terasa sejuk. Di kejauhan terdengar burung-burung berkicau riang. Anda tengah merasakan indahnya hari ini. Sambil bersiul-siul kecil Anda membuka pintu rumah Anda. Tampak sebuah kotak berwarna coklat di depan pagar. Ternyata pagi itu Anda mendapat bingkisan. Pengirimnya pun tertera jelas di situ: tetangga sebelah rumah. Ada apa? Dengan tergesa-gesa Anda membuka kotak itu. Ternyata isinya sangat mengejutkan Anda: setumpuk kotoran sapi! Bagaimana perasaan Anda? Anda mungkin bingung, kesal, atau marah. ''Ini sudah keterlaluan! '' pikir Anda. ''Tetangga sebelah itu memang harus diberi pelajaran!'' Lantas apa yang akan Anda lakukan? Anda mungkin langsung melabraknya. Atau paling tidak mempersiapkan ''serangan'' balasan. Nah, kalau Anda jadi melaksanakan niat tersebut, bagaimana respon tetangga Anda? Bisa dibayangkan ''perang'' yang terjadi pada hari berikutnya dapat lebih seru dari perang AS melawan Taliban tempo hari. Namun Beno, seorang kawan yang mengalami hal ini ternyata memberikan respon yang berbeda. Ia memang terkejut melihat kotoran sapi itu. Tapi kemudian ia berpikir, ''Betapa baiknya tetanggaku ini. Ia benar-benar memperhatikan pekaranganku. Ia tahu persis bahwa rumput dan tanamanku tidak terlalu subur. Karena itu ia menyediakan pupuk untukku. Luar biasa, aku harus ke rumahnya sekedar menyampaikan rasa terima kasihku!'' Pelajaran menarik apa yang dapat diambil dari cerita sederhana tadi? Ternyata kita tidak melihat dunia ini sebagaimana adanya, tetapi sesuai dengan keadaan kita sendiri. We see the world as we are, not as it is. Dengan demikian sebuah peristiwa yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda tergantung darimana Anda melihatnya. Bagi kita kotoran sapi dipersepsikan sebagai penghinaan dan ajakan ''berperang. '' Karena itu kita marah dan mempersiapkan serangan balasan. Sementara Beno menganggap kotoran sapi sebagai hadiah dan bukti perhatian tetangganya. Ia justru berterima kasih. Jadi dimana letak masalahnya? Pada kotoran sapi atau pada cara kita memandang kotoran sapi tersebut? Jelaslah bahwa ''cara kita memandang suatu masalah adalah masalah itu sendiri.'' Dalam bahasa sehari-hari cara kita memandang ini sering disebut dengan berbagai istilah seperti persepsi, asumsi, wawasan, keyakinan, pemikiran, prasangka, prejudis, dan sebagainya. Semua istilah ini terangkum dalam kata paradigma. Paradigma adalah jendela untuk melihat dunia. Saya berani mengatakan bahwa paradigma ini merupakan milik Anda yang terpenting. Mengapa? Karena semua tindakan Anda, apapun tanpa terkecuali, pasti didasari oleh suatu paradigma! Sekali lagi, coba Anda renungkan baik-baik. Semua tindakan Anda dalam hidup dasarnya adalah paradigma. Bagaimana kita melihat suatu masalah akan menentukan apa yang akan kita lakukan. Apa yang kita lakukan akan menentukan apa yang kita dapatkan. Jadi kalau Anda tidak puas dengan apa yang Anda dapatkan sekarang, Anda harus mengubah perilaku Anda. Namun Anda tak akan dapat mengubah perilaku Anda sebelum membongkar paradigma Anda. Sebuah bank pernah menerima banyak keluhan nasabah mengenai kurang ramahnya para petugas garda depan. Manajemen kemudian langsung mengirimkan para petugas ini ke pelatihan Service with Smile. Setelah mengikuti pelatihan para petugas ini berusaha untuk melayani pelanggan dengan senyuman. Tapi itu hanya dua minggu pertama. Minggu ketiga kondisinya kembali seperti semula. Memang di pagi hari para petugas masih ramah dan tersenyum. Tapi lewat tengah hari, karena sudah letih, mereka kembali memasang muka angker. Jadi dimana letak persoalannya? Persoalannya adalah karena pelatihan tersebut hanya mengubah perilaku orang, bukan paradigmanya. Para petugas memang bisa tersenyum, tapi mereka masih melihat nasabah sebagai ''beban,'' sebagai ''pekerjaan, '', dan bukannya sebagai ''rezeki.'' Karena paradigma mereka belum berubah, maka perubahan perilaku yang terjadi hanya bersifat semu. Akar semua persoalan yang kita hadapi adalah paradigma. Para pejabat banyak yang korupsi karena mereka MELIHAT jabatan sebagai rezeki dan kesempatan, bukan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabk an. Megawati marah ketika dikritik karena MELIHAT kritik sebagai ancaman, bukannya bantuan. Orang-tua sering berselisih dengan anaknya karena mereka MENGANGGAP dirinya paling tahu mengenai apa yang terbaik, sedangkan anak MENGANGGAP orang tua ketinggalan jaman. Kenapa penghasilan Anda pas-pasan saja? Ini juga karena Anda MENGANGGAP diri Anda terlalu rendah. Semua paradigma ini harus dibongkar terlebih dulu agar kita mendapatkan perubahan yang langgeng. Membongkar paradigma adalah langkah pertama dan terpenting dalam kepemimpinan. Pakar kepemimpinan Stephen Covey pernah mengatakan: ''Kalau Anda menginginkan perubahan yang kecil dalam hidup garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda!'' Oleh: Arvan Pradiansyah adalah Dosen FISIP UI & Pengamat Manajemen SDM
Jangan jadi gelas Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
sumber: unknown
Meraih dan Menikmati Sukses
"Banyak orang berhenti hidup walaupun mereka masih terus bekerja. Mereka lupa akan saat-saat penuh pesona yang dibawa setiap hari dan keajaiban hidup yang datang tiap menit." (Paulo Coelho)
Pembaca, apa yang Anda rasakan dalam hati ketika Anda sedang mengalami kesuksesan atau mimpi Anda terwujud? Pasti senang bukan. Nah, meraih kesuksesan dan menikmati kesuksesan ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Tanpa usaha dan perjuangan meraih sebuah kesuksesan, kenikmatannya sulit dirasakan. Karena itu, banyak kesuksesan yang diwariskan yang tidak bertahan lama. Namun ingat, perjuangan terus-menerus tanpa menikmati sebuah sukses juga sesuatu yang menyedihkan.
Ada seorang bapak yang seumur hidupnya berjuang dan menabung. Sekarang, dalam usia memasuki kepala tujuh, dia tergolek lemah di ranjangnya karena kanker pelan-pelan menggerogoti daya tahan tubuhnya.
Dia mulai menyadari perlunya menikmati apa yang dia raih. Dulu, saat masih berjuang, dia menolak makanan enak. Dia berusaha menabung. Bahkan, jarang sekali meluangkan waktu untuk melancong atau sekadar jalan-jalan.
Di akhir hidupnya, dia minta dibelikan anggur dan berbagai buah yang enak. Tapi, sayang, dia kini hanya bisa memandangnya. Dia tidak bisa memakannya lagi. Dia harus merasakan sakit yang sedang menggerayangi raganya.
Ada sepotong kisah lain. Seorang direktur produksi sebuah pabrik hidup sukses di masa pensiunnya. Karena kelebihannya, di masa pensiun itu pun, dia masih tetap dibutuhkan. Karirnya dibilang sukses dan perusahaan memenuhi semua kebutuhannya.
Tapi sayang, dia tidak bahagia. Dia mengaku tidak mampu menikmati semuanya lantaran secara psikis dia menderita oleh persoalan keluarga.
Istri dan anaknya kabur meninggalkannya. Padahal, dulu dia berjanji akan memberikan waktu bagi anak dan istrinya. Tapi, sampai hubungan dengan istrinya memburuk, dia masih belum sadar. Dan rasa sesal pun menggantung di hati saat masa pensiun tiba. Dia kesepian.
Bicara tentang menikmati sukses, saya teringat sebuah kisah satu lagi yang mungkin Anda pernah mendengar atau membacanya. Konon, ada seorang kaisar berkata kepada seorang pengelana.
Kaisar mengatakan, jika dia mampu menjelajahi daerah seluas apa pun, kaisar akan memberikan semua daerah yang sanggup dijelajahinya itu. Sontak, sang pengelana girang. Dia pun bergegas menaiki kuda dan melarikannya dengan sangat cepat untuk menjelajahi daratan seluas mungkin.
Dia terus melaju sampai lupa makan dan minum. Bahkan, ketika lapar mengusik perutnya dan haus mengusik kerongkongannya, dia tidak peduli. Yang ada di pikirannya cuma satu, menjelajahi daratan seluas- luasnya.
Akhirnya, tibalah dia pada sebuah tempat setelah berhasil menjelajahi daerah yang sangat luas. Tapi, dia sudah sangat kelelahan dan hampir mati. Lalu, dia sadar. "Buat apa aku paksa diri begitu keras untuk menguasai daerah seluas ini. Tapi, kini aku nyaris mati. Dan aku hanya membutuhkan tanah seluas dua meter persegi untuk menguburkan jasadku sendiri," katanya.Dia menyesali usaha yang membuatnya tidak bisa menikmati buahnya. Akhirnya, sang pengelana itu pun mati berbalut kesunyian.
Nah, cerita-cerita itu mirip dengan perjalanan kesuksesan kita. Di zaman sekarang, banyak orang memaksakan diri mengumpulkan uang, popularitas, materi, penghargaan, pangkat, dan posisi. Tapi, di tahap akhir, yang ada hanyalah ratapan batin yang tak pernah puas dan mau meraih lebih banyak lagi. Mereka bukan lagi berjuang meraih kesuksesan, tetapi kecanduan untuk sukses. Sampai akhirnya mereka lupa untuk menikmati hidup yang bahagia.
Kehampaan
Harold Kushner, seorang filosof religius tersohor, mengatakan dalam bukunya Melimpah Namun Gersang (Kanisius), sukses bukanlah sukses kalau membuat kita menderita. Kenyataannya, banyak orang mencapai kesuksesan tetapi tidak mampu menikmatinya. Yang ada hanyalah kehampaan. Itulah dilema besar manusia kontemporer.
Di satu sisi, kita dipacu untuk semakin keras berusaha, meningkat dalam karir, menambah harta dan tabungan. Tapi, di sisi lain, kalau tidak disadari, kita bisa lupa untuk menikmati, mencecap kebahagiaan yang menyertainya.
Banyak di antara kita yang kecanduan sukses. Bahkan menganggap menikmati sukses sebagai suatu dosa atau kebiasaan buruk yang hanya membuatnya malas. Akibatnya, kesuksesan mereka lebih banyak dinikmati oleh temannya, keluarga besar, sahabat, maupun orang lain yang sebenarnya memperalatnya. Sungguh malang manusia seperti ini.
Untuk terhindar dari jebakan sukses ini, Anda sesekali meluangkan waktu untuk sebuah jeda. Coba Anda duduk santai, merenung, mensyukuri jalan-jalan sukses yang sudah Anda lalui, dan ucapkan terimakasih pada Sang Pemberi Hidup. Dengarkanlah dengusan nafas Anda, nafas yang setia menemani Anda meraih sukses.
Apa gunannya seorang memperoleh seluruh dunia, jika tidak bahagia? Tantangan dari tulisan ini bagi Anda hari ini adalah menanyakan kepada diri Anda sendiri, apakah perencanaan Anda dalam tahun ini untuk merayakan dan menikmati kesuksesan yang telah Anda raih selama ini, khususnya bersama orang-orang yang penting dalam hidup Anda?
Sumber: Meraih dan Menikmati Sukses oleh Anthony Dio Martin, Psikolog, penulis buku best seller EQ Motivator, dan Managing Director HR Excellency (resonansi@yahoogroups.com)
Blessing In Disguise
Dalam sebuah e-mail dari teman pernah ada kisah sepasang suami-istri
dan anaknya. Ceritanya kira-kira begini. Adalah sepasang suami-istri
yang sudah lama tidak mempunyai anak.
Suatu hari sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak
laki-laki. Semua tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang
beruntung. Anaknya laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa,
bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat orang tuanya? Sungguh
beruntung mereka punya anak laki-laki.
Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki
seekor kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan
tersebut. Semua orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial
karena miskin, sehingga tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya,
kan bisa beli kuda? Sial benar.
Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang
sering membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda.
Semua orang mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh
ada yang memberi kuda. Beruntung sekali.
Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu
hari, ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk,
sehingga anak itu terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia
menjadi pincang apabila berjalan.
Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya
kuda, kan dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang.
Sial. Mengapa punya kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial
sekali.
Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut
pecah perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu.
Anak pasangan suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya
khawatir kalau anak satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga
merasa kasihan dan menyesali mengapa dulu tidak lahir anak perempuan
saja. Kalau anak perempuan kan tidak harus berangkat berperang.
Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu melahirkan anak laki-
laki?
Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini
sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu
karena kakinya cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia
tidak harus berperang. Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia
pasti harus ikut berperang. Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu
dia jatuh dari kuda. Untung kakinya pincang. Sungguh beruntung dia.
Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan
seorang disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak
laki-laki yang lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus
berperang, orang-orang mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak
perempuan saja?
Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang
karena jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa
punya kuda. Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang,
kata orang dia beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung
dulu punya kuda. Untung dia pincang.
Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung?
Apakah karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita
katakan sial atau kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan
keinginan kita, lalu musibah tersebut bisa berubah menjadi
keberuntungan? Kapan kita menyesali sesuatu? Kapan kita mensyukuri
sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial atau musibah hari ini,
mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa depan.
Melihat berkah
Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in
disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang
dilihat sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru
kita sadari bahwa hal itu mengandung berkah.
Kisah berikut ini pernah saya tulis dari sudut pandang yang berbeda.
Sekali waktu ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai
penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia
bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke
tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.
Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa
membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang
ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa
tidak bisa bekerja lagi.
Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani
langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu
isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.
Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin
membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah
mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual
tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir "Tembakau sangat perlu. Tapi di
sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau
saja ah."
Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk
berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali
nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun
membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras.
Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun
kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat
lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.
Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka
rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi
formulir. Karyawan bank berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja
bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan
menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi." Dengan tersenyum dia
berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih
menjadi penjaga gereja."
Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin
menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini,
dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi
seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.
Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan
keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah
dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik
musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!
Sumber: Blessing In Disguise oleh Lisa Nuryanti (resonansi@yahoogroups.com)
__._,_.___
Pernahkah anda mendengar istilah Alkemi? Alkemi dikenal sebagai sebuah
ilmu yang mampu mengubah besi menjadi emas. Dalam banyak kisah,
beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah sihir belaka, tetapi yang
lain percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada. Dan, siapa yang tak
tergiur untuk bisa menguasai ilmu alkemi? Hanya dengan kemampuan
alkemi, ia bisa mengubah besi menjadi emas dan tentu menjadi kaya-raya.
Alkisah, di sebuah negara di Timur ada seorang Raja yang hendak
mencari orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak
orang datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak
mampu mengubah besi menjadi emas.
Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa
terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di
sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi. Segera saja Raja
mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu. Sesampainya di istana,
Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan
memberikan apa yang diminta oleh orang itu.
Tetapi apa jawab orang desa itu, "Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit
pun ilmu yang Baginda maksudkan."
Raja berkata, "Setiap orang memberitahu aku bahwa engkau mengetahui
ilmu itu."
"Tidak, Baginda," jawabnya bersikeras. "Baginda mendapatkan orang yang
keliru."
Raja mulai murka dan mengancam. "Dengarkan baik-baik!" kata Raja.
"Bila kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur
hidup."
"Apa pun yang Baginda hendak lakukan, lakukanlah. Baginda mendapatkan
orang yang keliru"
"Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan,
selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu ke enam kau
masih berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu."
Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja
datang ke penjara dan bertanya, "Apakah kau telah berubah pikiran?
Maukah kau mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat,
berhati-hatilah. Ajari aku pengetahuan itu."
Orang itu selalu menjawab, "Tidak Baginda. Carilah orang lain. Carilah
orang lain yang memiliki apa yang Baginda inginkan, saya bukanlah
orang yang Baginda cari."
Setiap malam ada seorang pel |
|