Awan hitam bergelayut di angkasa ketika langkah-langkah kecil anak-anak korban konflik menapaki rerumputan yang basah oleh embun, di sebuah pesantren di Desa Tanjung Ara, Kecamatan Panthon Labu, Aceh Utara, Minggu (28/11) pagi.
Celotehan dan gelak tawa seketika juga terdengar mengiringi langkah-langkah mereka menuju sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu dan beratapkan seng.
Sesampai di tempat itu, mereka menaiki anak tangga secara bergantian, kemudian mengambil posisi duduk di sebuah lantai papan berwarna coklat dan sedikit berdebu.
Beberapa anak terlihat menggeser-geserkan pantatnya ke sebuah sisi maupun sudut yang diinginkannya. Tak pelak, suara gaduh terdengar bersahutan. Namun dalam hitungan menit, celotehan itu tak lagi terdengar. Pasalnya, suara seseorang dengan menggunakan mikrofon menghentikan canda tawa anak-anak itu.
âMohon perhatiannya. Acara akan segera dimulai,â kata pemandu acara dengan menggunakan mikrofon. Mendengar suara itu, anak-anak langsung terlihat mengatupkan bibirnya dan mendengarkan dengan seksama. Tetapi selang beberapa menit kemudian keseriusan anak-anak tersebut kembali mengendor ketika beberapa wartawan bergabung dengan mereka. Beberapa anak mulai kembali terlihat tertawa geli dan mengeluarkan suara-suara kecil. Tetapi sebaliknya, ada juga beberapa di antara mereka yang menampakan muka tegang dan matanya menyorot dengan tajam. Gambaran kecurigaan sangat jelas terlihat di wajahnya.
Mereka ini tak lain adalah anak-anak yang keluarganya meninggal akibat konflik. Dengan pandangan curiga seperti itu, otomatis para kuli tinta tak mudah mengorek keterangan tentang asal-usul mereka. Umumnya, mereka bersedia mengatakan asal desa dan pendidikannya saja. Sedangkan, untuk menyebutkan nama, harus bersabar beberapa menit.
Mereka akan segera bungkam seribu bahasa ketika pertanyaan mengarah pada keberadaan orang tua mereka. Seperti melihat sesuatu yang menakutkan, seketika pula, mata mereka memandang ke setiap arah. Setelah itu, mereka kemudian kembali menundukkan kepala dan memainkan jari-jari tangan.
Suara Lirih
Tak pelak untuk mendapatkan jawabannya, terpaksa pertanyaan kembali diulang beberapa kali. Jika sudah demikian, suara lirih dari dalam kalbu akhirnya mengemuka juga. âBapak saya sudah meninggal sebelum saya lahir. Bapak mati tertembak. Pelakunya oleh tentara,â kata Muhammad Adi (14) dan kemudian membisu. Dengan kepala yang masih menunduk, dia sangat hati-hati menjawab setiap pertanyaan yang diajukan selanjutnya.
Matanya terkadang menatap tajam seseorang yang menanyainya, seolah-olah mencari suatu kepastian. Tetapi setelah diyakinkan berkali-kali bahwa para kuli tinta itu bukanlah seorang intel, Muhammad kemudian agak lancar menceritakan tentang keluarganya. âSaya tidak tahu kuburannya,â imbuhnya.
Dia menguraikan, tak hanya ayahnya yang meninggal terkena peluru. Namun, kakak laki-lakinya juga mengulangi nasib seperti ayahnya yang tewas karena diterjang timah panas yang dimuntahkan dari moncong senjata pada tahun 2000. Hanya saja, keberadaan kuburannya sudah diketahui oleh keluarganya.
Dikatakannya, setelah petaka itu menimpa, kepedihan tetap menggelayuti hidupnya. Bayangan akan kematian kakak laki-lakinya selalu membayangi setiap tidurnya. Tak hanya itu, ketakutan yang luar biasa ketika melihat aparat maupun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga membuatnya semakin tersiksa.
Katanya, ketakutan itu terjadi karena dia sering melihat aparat marah-marah ketika tidak menemukan keberadaan anggota GAM di kampung itu. Pada saat marah, terkadang pukulan tak segan-segan mendarat secepat kilat ke tubuh warga desa itu. âsaya takut sama tentara karena sering bentak-bentak. Kalau tanya GAM dan dibilang tidak ada marah-marah,â ucap Muhammad.
Sedangkan, gerilyawan juga sering marah-marah kepada penduduk jika meminta uang. âMereka suka minta uang. Kalau tidak dikasih marah. Semua sama saja,â katanya. Mengingat semua kejadian yang menimpanya, dia mengaku hanya memiliki satu cita-cita. Menjadi seorang tentara. Bukan karena alasan membela nusa dan bangsa, tetapi hanya karena ingin pegang senjata. âLoen meuheut mat beude (aku ingin pegang senjata),â katanya mengakhiri sebuah cengkerama dan meninggalkan para kuli tinta. (Sinar Harapan/Tutut Herlina)
Harian Umum Sore Sinar Harapan, 04 Desember 2004
| |