Blog EntryPak Guru Suparto Pun Menangis di Depan Kelas Feb 7, '05 6:13 AM
for everyone
SUPARTO tak mampu menyelesaikan bait terakhir lagu Desaku yang ia nyanyikan bersama murid- muridnya. Tiba-tiba saja air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Matanya sebak. Suara pak guru Suparto berubah lirih, bahkan seperti tercekat.

SEJUMLAH murid kelas I-III SD yang semula ikut menyanyikan lagu itu pun ikut terdiam. Selama sekitar lima menit, Suparto tak mampu menahan tangis haru di hadapan murid- muridnya. Semula dia mencoba untuk menyelesaikan lagu Desaku hingga rampung, namun air mata mengalahkan keinginan itu, sampai akhirnya seorang anak bertanya, "Kok Pak Guru menangis?"

//Desaku yang kucinta/pujaan hatiku/Tempat ayah dan buda/dan handai taulanku/Tak mudah kulupakan/tak mudah bercerai/Selalu kurindukan/desaku yang per....//

Suparto segera mengusap air matanya. “Tidak, Bapak tidak menangis. Bapak hanya terharu mengingat kampung halaman. Nanti setelah mengungsi, kita kembali ke kampung halaman ya," ujar Suparto.

Hari itu, Rabu (26/1), adalah hari pertama anak-anak di lokasi pengungsian Alue Penyareng, Kecamatan Meureubo, Meulaboh, Aceh Barat, bisa bersekolah. Walaupun itu harus mereka jalani di bawah tenda darurat berlantai terpal. Sejak pukul 07.00, sekitar 240 siswa SD dan 100 lebih siswa SMP sudah berdatangan ke tenda- tenda yang disulap menjadi kelas. Mereka berebutan memilih kursi dan meja.

Murid kelas I-III SD hanya diajak bermain dan bersenang- senang. Mereka hanya bernyanyi bersama, dibimbing para guru yang umumnya juga penghuni lokasi pengungsian, termasuk Suparto SPd.

Semula, Suparto mencoba membangun suasana ceria. Kelas pun menjadi gaduh, apalagi sesekali terdengar suara anak- anak yang melengking dan tepuk tangan riuh. Sambil bertepuk tangan, mereka serempak bernyanyi: //Di sini senang/di sana senang/di mana-mana hatiku senang/Di rumah senang/di tenda senang/di mana-mana hatiku senang/...//

Begitulah antara lain syair lagu yang mereka nyanyikan. Anak-anak itu begitu menikmati hari pertama sekolahnya, setelah gempa dan tsunami memporakporandakan bangunan sekolah mereka Bahkan, saat Suparto bertanya, "Siapa yang senang di pengungsian?", mereka pun serempak menjawab sambil mengacungkan jari: "Sayaaa...."

DI SD Negeri 1 Sinabang, Kabupaten Semeuleu di Pulau Semeule, kegembiraan juga tampak di wajah anak- anak menyambut hari pertama mereka bisa kembali bersekolah.

Meski peluh membasahi wajah dan leher Jumadi (6), bocah kecil yang kini duduk di bangku kelas I SD Negeri 4 Sinabang, ia tampak asyik menggores-goreskan pensil warnanya di atas selembar kertas. Jumadi seperti tak peduli gerahnya udara dalam tenda berbahan terpal, yang menjadi atap sekaligus dinding ruang tempat ia belajar.

Ketika Mendiknas Bambang Sudibyo dan rombongan memasuki ruang "kelas" itu, Jumadi-bersama sekitar 30 murid lainnya-dengan sigap berdiri memberi salam hormat.

"Bagaimana? Kalian senang bisa bersekolah kembali?" tanya Bambang. Dengan lugu, anak-anak itu menjawab, "Senang, Pak Menteri. Cuma udaranya panas sekali..."

Bupati Semeuleu Darmili dan Mendiknas secara bergantian mencoba menenangkan anak-anak itu. "Sabar saja dulu. Ruang kelas ini hanya sementara. Nanti kita bangun ruang kelas yang lebih bagus," kata Darmili.

Keceriaan juga tampak di wajah Sri dan Ema, siswa kelas VI yang kini belajar di SD darurat di lokasi pengungsian Alue Penyareng, Meulaboh. Kedua gadis kecil ini mengaku sangat senang bisa sekolah lagi. Selama tinggal di tenda pengungsi, mereka mengaku tidak melakukan apa-apa.

Keceriaan anak-anak itu semakin bertambah ketika mereka diberi buku dan peralatan menulis. Sebelumnya, mereka diberi sepatu bekas hasil sumbangan para dermawan. Ada yang mendapat sepatu pesta, sepatu olahraga, ada juga yang hanya mendapat sandal jepit. Namun, belum ada satu pun siswa yang sudah mengenakan seragam putih-merah.

Hari itu, anak-anak sekolah itu belajar di empat tenda darurat. Kelas I, II, dan III digabung dalam satu tenda, begitu juga kelas IV, V dan V. Satu tenda lagi digunakan untuk anak-anak kelas I, II, dan III SMP. Satu tenda lainnya belum didirikan.

Keempat tenda yang disulap menjadi kelas itu belum dilengkapi papan tulis. Meja dan kursi yang disediakan juga masih kurang sehingga sebagian siswa terpaksa berdiri. Guru yang mengajar di sekolah tenda itu 15 orang.

Di Meulaboh terdapat tiga lokasi sekolah darurat, yakni di lokasi pengungsian Alue Penyareng, Markas Korem 012 Teuku Umar, dan lokasi pengungsian di Stadion Cut Nyak Din, Kecamatan Kaway XVI. Ada 567 siswa terpaksa bersekolah di tenda-tenda darurat. Mereka berasal dari beberapa sekolah yang tersebar di lokasi bencana di wilayah Meulaboh. Di Meulaboh terdapat 32 gedung SD rusak, tujuh SMP, dan tiga SMA.

Pada hari pertama, siswa di sekolah darurat belum diberikan materi pelajaran. Mereka hanya diminta menggambar di atas buku gambar dengan pensil warna. Sebagian siswa menggambar gunung, pantai, dan sekolah. Namun, ada tujuh siswa yang menggambar pantai yang rusak dan pohon kelapa bertumbangan.

“Ini gambar tsunami Pak, tapi belum selesai," kata Ema sambil menunjukkan gambarnya. Ketika ditanya mengapa dia memilih menggambar pantai yang terkena tsunami, Ema menjawab pendek, “Tidak tahulah, yang saya ingin gambar cuma tsunami," katanya.

Erma berasal dari Kecamatan Johan Pahlawan yang hancur terkena tsunami. Seperti yang digambar Ema, kawasan itu luluh lantak tersapu badai tsunami. Setelah bencana itu, dia tinggal di tenda pengungsi di Alue Penyareng bersama kedua orangtuanya.

Wajar jika Suparto mudah terharu, sebab dia juga termasuk salah satu korban bencana tsunami. Dia adalah warga Peulanteu, Kecamatan Bubung, Aceh Barat yang habis disapu tsunami. Empat dari sembilan anggota keluarganya hingga sekarang tidak ditemukan. Suparto sendiri sempat terseret arus tsunami, namun dia berhasil menyelamatkan diri. “Itu pengalaman yang menyeramkan," katanya sebelum mengajar.

Saat ini, Suparto tinggal di pengungsian Alue Penyareng, Kecamatan Meureubo. Dia mengaku gembira karena sudah bisa mengajar kembali. “Dengan mengajar saya bisa melupakan bencana tsunami. Namun, setiap malam tiba, saya masih sering menangis," ujarnya.

Bukan hanya Suparto yang mengalami trauma. Di antara ratusan siswa yang terlihat ceria, ada sekitar 25 anak-anak yang terlihat tidak bergairah. Mereka tidak antusias, tidak responsif, sering membisu, dan tatapan mata sering kosong. Anak-anak itu hanya memandangi kertas kosong ketika disuruh menggambar apa saja oleh gurunya. Sebagian anak-anak lainnya menunjukkan sikap agresif dan sulit di atur.

Untuk menghilangkan trauma, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Markas Korem 012 Teuku Umar mengatakan, pemerintah akan menerapkan kurikulum khusus untuk siswa sekolah dasar dan menengah di Aceh dan Nias. Kurikulum tersebut terdiri dari kurikulum formal ditambah kegiatan bermain dan konseling. Selama dua-tiga bulan pertama bersekolah, anak-anak akan lebih banyak mengikuti bimbingan konseling agar jiwa mereka kembali stabil.

Sayangnya, hingga Rabu kemarin, belum ada seorang psikiater pun di lokasi pengungsian Alue Penyareng maupun di Kaway XVI. Di tempat itu hanya ada dokter dan petugas medis yang tidak mengerti masalah psikologis pengungsi.

Jika tenaga psikiater tidak segera tersedia, Pak Guru Suparto pasti masih akan terus menangis di depan kelas.

By : Budi Suwarna - Kompas


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help