TIGA nelayan asal Desa Kuala Cangkoi Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara memandang nanar lautan lepas. Seperempat jalan aspal di pinggir laut sudah longsor digerus gelombang tsunami. Tanah-tanah kosong di tepi pantai kini tampak gersang. Hanya pohon kelapa yang masih berdaun hijau. Pohon-pohon lainnya kering kerontang. Sekering kantong para nelayan yang kini hidup di pengungsian.
Dulu di sana ada jalan menuju pulau kecil itu,・tunjuk seorang nelayan ke lautan lepas. Tak jauh dari bibir pantai, mungkin 150 meter, memang terlihat sebuah pulau kecil yang ditumbuhi pohon kelapa. Sebelum 26 Desember 2004, tempat itu digunakan sebagai pos tinjau anggota Marinir terhadap lalulintas anggota GAM melalui jalur laut. Kini tempat itu telah kosong, seperti rumah-rumah di tepi pantai yang ditinggali penghuninya yang masih memilih hidup di bawah tenda pengungsian.
Berbeda dengan kampung nelayan di Lhokseumawe seperti Pusong atau Ujong Blang, enam kampung nelayan di Tanah Pasir benar-benar hancur. Beberapa rumah rata dengan tanah sebagaimana yang terlihat di Banda Aceh. Di sebuah tambak, puluhan lembar seng tampak sudah karatan. Seng yang masih bagus sudah dikumpulkan masyarakat. Membangun kembali rumah di dekat laut menjadi harapan sebagian besar warga Kuala Cangkoi.
Dahsyatnya terjangan tsunami di Kuala Cangkoi memang bisa dilihat dari tingkat kerusakan pada kebun dan rumah-rumah penduduk. Tak heran bila korban di kampung nelayan ini mencapai 332 orang, seperti yang disebutkan Ismail Insya, Panglima Laot Kecamatan Tanah Pasir.
Angka kematian yang begitu tinggi akibat terjangan tsunami yang begitu mengerikan, tidak membuat masyarakat membenci laut. Laut tetap sumber kehidupan, tempat para nelayan hidup beranak cucu, dan menghidupi masyarakat lainnya. Laut adalah habitat mereka.
Selaku Panglima Laot, Ismail Insya sudah menyarankan nelayan kembali melaut setelah kampung mereka porak-poranda oleh gelombang tsunami. Apalagi yang masih memiliki perahu, saya minta untuk segera melaut. Bagi yang tidak punya perahu, ya, harus bersabar,・katanya kepada wartawan yang mengunjungi kampung Kuala Cangkoi.
Panglima yang memiliki 1.000 lebih anak buah ini, begitu getol menyemangati nelayan agar segera melaut. Tentu saja itu tidak mudah. Selain karena terjadi perubahan persepsi terhadap laut akibat tsunami, perangkat kerja nelayan juga banyak yang rusak atau hilang. Untuk perahu saja sebagai sarana utama, sebanyak 135 unit hilang atau rusak. Dalam kondisi demikian, tentu tidak mudah mengajak nelayan kembali ke laut.
Sebenarnya para nelayan di sini sudah siap melaut. Mereka sudah bosan hidup terus di bawah tenda pengungsian. Kalau ada boat, mereka siap. Yang penting ada boat-nya,・tambah lelaki berkulit hitam legam itu.
Di sekitar kampung Kuala Cangkoi memang hampir tidak terlihat adanya perahu nelayan. Padahal, sebagaimana kampung nelayan lainnya, biasanya terlihat perahu ditambatkan di kuala atau di darat. Di Kuala Cangkoi tidak terlihat apapun selain puing-puing. Satu dua unit rumah beton memang masih tersisa, tapi tidak tercium bau laut di sana.
***
Sepasang suami-istri terlihat sedang membenahi rumah mereka yang hancur. Beberapa lembar seng ditumpuk di suatu tempat. Kayu-kayu yang masih bisa digunakan juga ditumpuk di sudut yang lain. Kami menyelamatkan apa yang masih tersisa,・kata lelaki itu singkat.
Di depannya, ada sebuah rumah beton yang masih kokoh berdiri. Dua orang pemuda tampak sedang membersihkan rumah tersebut dengan peralatan terbatas. Saat ditanyai, seorang di antaranya menyebutkan mereka belum berani menempati rumah tersebut. Kalau Maghrib, kami kembali ke lokasi pengungsian di Lapang,・katanya.
Mereka adalah para nelayan yang tidak tahu kapan bisa melakukan kegiatan seperti dulu. Mereka punya semangat, tapi tidak punya perangkat.
Syukurlah, jeritan hati nelayan itu terdengar. Adalah Yayasan Obor Indonesia yang mengambil keputusan untuk menerangi masa depan para nelayan di Kuala Cangkoi. Mereka membantu 50 unit perahu untuk digunakan 100 kepala keluarga (KK) nelayan di daerah tersebut. Dengan asumsi bahwa satu perahu bisa digunakan dua KK, maka berapa banyak orang yang terselamatkan.
Sayangnya, bantuan itu agak terganjal ketika ditanyai harga per satuan. Nelayan di sana dengan cepat menyebutkan angka Rp 25 juta. Koordinator Yayasan Obor Indonesia untuk Aceh, Sandi, sampai mengungkapkan keraguannya dengan nilai yang demikian tinggi. Benar tidak harganya sampai Rp 25 juta untuk perahu kecil. Saya lihat di Langsa harganya tidak setinggi itu,・katanya kepada acehkita.
Keraguan Sandi memang wajar. Dengan harga Rp 25 juta per unit, maka Yayasan Obor Indonesia harus menyediakan dana tak kurang dari Rp 1 milyar. Padahal bukan pertama kali ini organisasi itu memberikan bantuan perahu kepada nelayan. Seperti diakui Sandi, sebelumnya mereka sudah melakukan hal sama di Banda Aceh dan Sigli.
Tingginya harga seperti yang disebutkan nelayan juga sempat membuat membuat Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengeluarkan pernyataan pedas di depan tokoh masyarakat Tanah Pasir dan Panglima Laot Ismail Insya. Jangan ambil kesempatan. Kalau ambil kesempatan, nanti datang lagi bala Tuhan. Tukang diminta jujur dalam membuat boat nelayan,・katanya saat berkunjung ke Kuala Cangkoi.
Seorang tokoh masyarakat setempat, segera menambahkan bahwa masalah harga ditanyakan dulu kepada tukang kayu. Kalau nanti dia bilang harganya berapa, ya, kita minta kurang,・katanya.
Kisah warga yang mengambil untung besar di tengah bencana dahsyat ini memang bukan hal baru. Semuanya seakan berlomba-lomba memperkaya diri dengan mengeksploitasi penderitaan para korban tsunami. Tak heran bila harga sewa rumah, rental mobil, bahkan sebungkus nasi, melonjak gila-gilaan. Kendati kebutuhan itu digunakan untuk membantu korban tsunami, orang seakan tidak peduli dan menganggapnya sebagai peluang emas untuk meraup keuntungan.
***
Semangat untuk kembali ke laut memang tercermin dari sikap pengungsi yang menolak relokasi terlalu jauh dari laut. Sikap ini tidak hanya ditunjukkan warga Cot Seurani di Kecamatan Muara Batu, tetapi juga warga Kuala Cangkoi. Mereka tidak ingin jauh-jauh dari laut karena sadar bahwa lautlah tempat mereka bergantung.
Penjabat Bupati Aceh Utara, Teuku Alamsyah Banta, sangat menyadari hal itu. Karenanya ia mengatakan para nelayan yang selama ini hidup dari laut, tidak akan dipisahkan dari habitatnya. Mereka tidak akan dijauhkan dari laut,・kata Alamsyah kepada wartawan dalam beberapa kesempatan.
Mensos Bachtiar Chamsyah sendiri mengharapkan permasalahan itu bisa dibicarakan bersama. Menurutnya tidak ada pemaksaan bagi pengungsi untuk tinggal di lokasi baru. Ia mengaku sangat memahami kondisi pengungsi yang ingin tinggal tak jauh dari rumah mereka sebelumnya.
Anehnya, meskipun tidak ingin jauh dari laut, sejumlah warga Kuala Cangkoi dikabarkan menolak dipindahkan ke Lapang yang relatif lebih dekat dengan rumah mereka karena sama-sama berada di Kecamatan Tanah Pasir. Sejumlah pengungsi Kuala Cangkoi, saat ini masih berada di lokasi pengungsian di Lhoksukon.
Entah kenapa mereka menolak dipindahkan ke Lapang. Mungkin di Lhoksukon lebih enak,・kata seorang ibu, Marliah (30), penduduk Desa Kuala Keureuto Timu, Tanah Pasir saat ditemui di lokasi pengungsian.
Kendati tinggal tak jauh dari laut, tetapi ibu lima anak itu mengaku tidak hidup dari laut. Suaminya, Muhammad Yusuf (50), berprofesi sebagai mugee (agen) pisang. Tapi saat ini saya sedang menganggur, tidak ada pekerjaan. Mau mugee pisang tidak bisa karena sepeda sudah hanyut dibawa air. Padahal saya butuh pekerjaan. Pengeluaran setiap hari ada, pemasukan tidak. Anak-anak semuanya sekolah, kecuali yang ini....・katanya sembari membelai kepala seorang anak berusia sekitar tiga tahun dalam gendongan istrinya. [dzie]
By: Cut Ida - Acehkita.Com