Blog EntryBuket Nibong, Potret Desa Tak BertuanNov 6, '04 12:29 AM
for everyone
Memasuki kawasan Dusun Buket Nibong di Desa Jrat Manyang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara adalah menjejak ke sebuah wilayah tak bertuan. Lebih dari 450 jiwa warga di sana telah lama meninggalkan rumah rumah mereka, karena tak tahan dengan deraan konflik bersenjata yang terjadi sejak awal tahun 1999 silam.

Kawasan ini berada sekitar 65 kilometer arah timur kota Lhokseumawe, kota kedua terbesar di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di sepanjang pesisir Selat Malaka.

Suasana sepi langsung membekap saat awal kita menjejak kaki di ujung jalan Dusun Buket Nibong. Jalan tanah penuh bebatuan dan telah dipenuhi rumput liar, merupakan pemandangan pertama yang akan kita temui di kawasan yang perbukitan yang tergolong subur ini. Selebihnya, hanya kesunyian dan suara orang utan yang terdengar dari dalam semak.

Bila kelelahan, jangan harap anda akan dapat berteduh dan menumpang istirahat di rumah yang nyaman disini. Tak ada bangunan yang layak disebut rumah di kawasan ini. Tak ada juga bangunan sekolah, tempat anak anak di dusun itu mengenyam pendidikan. Pun sebuah puskesmas kecil, yang menjadi rujukan bila ada warga yang menderita sakit. Bangunan sekolah dasar terdekat berada sekitar 3 kilometer dari Dusun Buket Nibong, tepatnya di Desa Lhok Beuringen yang merupakan desa tetangga.

Sebelumnya, menurut keterangan sejumlah warga yang pernah menjadi penduduk Dusun Buket Nibong, kawasan itu merupakan daerah paling ramai di seluruh Desa Jrat Manyang, Tanah Jambo Aye. Hampar semua warga desa, bila kembali dari berkebun, selalu beristirahat di warung warung kopi yang terdapat di sepanjang jalan desa.

Tapi itu, cerita empat tahun yang lalu. Sebelum warga nekad meninggalkan rumah dan kebun milik mereka, karena harus menyelamatkan dirinya dari kontak tembak dan letusan bom rakitan, yang kerap terjadi di sekitar desanya. Sejak tahun 2000, lebih dari 55 keluarga di Dusun Buket Nibong memutuskan untuk eksodus ke sejumlah desa lain yang diangap lebih aman.

”Kami sudah empat tahun mengungsi, karena takut menjadi sasaran bila terjadi pertempuran antara TNI dan GAM,” kata Jafaruddin, 41 warga Dusun Buket Nibong yang kini mengungsi ke Desa Krueng Lingka. Alasan lain, kata pria bertubuh kurus dan berkulit hitam ini, pada saat konflik bersenjata sedang meninggi, di sekitar tahun 1999 hingga tahun 2000, kelompok GAM seringkali menanam bom rakitan di sembarang tempat di sekitar jalan desa.

“Suatu hari pernah terjadi petir, saat hujan lebat mengguyur desa kami. Sebuah bom meledak karena tersambar petir. Di hari lain, hewan ternak kami, mati terkena serempetan peluru,” kata Jafaruddin dalam bahasa Indonesia yang terbata, tentang alasan mengapa ia nekad meninggalkan desanya.

Namun karena tak dikoordinir oleh pemerintah setempat, sebagian besar warga mengungsi ke rumah-rumah saudara di desa lain yang jauh dari Dusun Buket Nibong. Tapi tak sedikit yang harus membangun gubuk darurat sendiri ditanah milik orang, sebagai tempat tinggal baru karena tak punya saudara. Warga Dusun Buket Nibong sekarang tersebar di Desa Ulee Glee, Ujung Blang, Matang Rambong, Lingka, Paya Bakong, Matang Iboh, Matang Sungke Puleut, Matang Raya dan di sejumlah desa lain.

Sekarang, setelah kondisi keamanan di daerah Nanggroe Aceh Darussalam mulai membaik, warga Dusun Buket Nibong masih belum bisa kembali. Banyak rumah warga yang telah dibakar oleh kelompok bersenjata, setelah rumah ditinggal mengungsi. Kebun pinang dan kemiri yang mereka tinggal selama empat tahun, telah menghutan kembali oleh pepohonan liar.

Yang membuat miris hati Jafaruddin, dan sejumlah warga Dusun Bket Nibong lainnya yang kini hidup mengngsi ke desa lain, mereka tak pernah menerima bantaun apapun dari pemerintah. Padahal, informasi adanya dana milyaran rupiah untuk operasi kemanusiaan yang diberikan pemeritah pusat untuk Aceh, sampai juga ketelinga mereka.

Pemerintah memang telah mengalokasikan dana yang cukup besar bagi pelaksaaan operasi terpadu di Nanggroe Aceh Darussalam. Sejatinya, Jafaruddin dan puluhan kepala keluarga lainnya, dari Dusun Buket Nibong mendapat jatah sebagai orang yang terkena imbas konflik.

“Entahlan, kami ini rakyat kecil yang tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang. Kalau pemerintah mau membantu kami syukur, tapi kalau tidak, kamipun tak tahu harus bilang apa,” ungkap Jaffar dengan nada sedih.

Muhammad Ismail, 52 mantan Kepala Dusun Buket Nibong mengatakan, sekarag ini beberapa warganya mulai memberanikan diri untuk menjenguk kebunnya. Dari sana, beberapa tandan pinang dan biji kemiri yang berhasil ditemukan, menjadi sumber pendapatan mereka. Berharap pada bantuan pemerintah, Muhammad Ismail seakan merasa jera.

”Saya sudah lapor ke kepala desa, dan dia telah meneruskan laporan ke pemerintah kacamatan. Tapi sudah empat tahun kami mengungsi dan hidup terlantar, kami belum pernah mendapatkan bantuan apapun,” sebutnya pelan nyaris tak terdengar.

Di Dusun Buket Nibong, tempat lebih dari 450 jiwa pernah menetap, angin pegunungan kuat berhembus. Di ujung kaki bukit, terhampar areal persawahan yang luas. Tapi, semua itu tinggal kenangan yang tak mungkin tercatat dalam ribuan tulisan tangan para petani miskin di sana.

Konflik, tak hanya menghalau anak anak petani itu untuk menikmati indahnya masa kecil di dalam suasana damai di sebuah kawasan pemukiman di kaki bukit, tetapi juga telah mencabik kebahagiaan semua orang yang tercatat sebagai penduduk Dusun Buket Nibong. ***

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help