
Pengalaman Heru, santri yang juga salah seorang relawan pemburu mayat anggota FPI asal Jakarta, lain dari yang lain. Ia punya pengalaman yang membuatnya susah untuk dilupakan. Saat mencari mayat memasuki minggu ketiga di daerah Lampeuk, Kec. Lhoknga, Kab. Aceh Besar, bersama rekan lainnya, mereka mengangkat mayat-mayat yang masih berserakan.
Namun, ketika itu Ia menemukan satu mayat yang ternyata masih utuh. Padahal, memasuki minggu ketiga mayat-mayat umumnya sudah rusak. Hal lain yang membuatnya benar-benar terkejut, mayat laki-laki yang diperkirakan masih berusia muda itu, menebarkan aroma harum. "Saat mengangkat mayat itu, kita semua tertegun. Biasanya, mayat-mayat yang lain saat diangkat baunya menusuk hidung. Tapi mayat yang satu ini, malah harum. Saya yakin Allah telah menjaga jenazah itu," kenang Heru.
Relawan lain, Agus, mengaku punya pengalaman yang aneh selama mencari mayat. Suatu hari ia menemukan mayat bertubuh besar. Logisnya, mayat itu berat. Namun aneh, justru saat diangkat terasa ringan. Ia sempat berpandangan dengan rekan lain saat angkat mayat itu. Mereka juga mengaku mayat itu ringan sekali. "Apakah mungkin tertolong oleh amalannya yang banyak, sehingga mayatnya ringan," katanya. Lain waktu Agus mendapatkan mayat bertubuh kurus, tapi beratnya bukan main.
Sejumlah pengalaman juga diungkapkan para relawan. Salah satunya diceritakan oleh Kurnia. Ia mengaku sering mimpi aneh setelah sehari sebelumnya mengangkat mayat. Ia pernah mengangkat mayat seorang ibu yang terjepit pohon. Setelah memotong pohon itu dengan susah payah, akhirnya mayat ini bisa diangkat. "Malamnya, saya bermimpi orang itu hadir. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Sepertinya orang itu mengucapkan terima kasih," paparnya.
Muhammad Iqbal relawan yang tergabung dalam Tim SAR Nasional, juga membeberkan pengalamannya. Muhammad Iqbal yang juga pegawai Dinas Perhubungan Pemprov Aceh ini, mengaku ada dua kejadian yang baginya sulit dilupakan. Kejadian pertama, saat mencari mayat di daerah Lhoknga, Aceh Besar. Saat memasuki hari ketiga bencana, ia mulai turun mencari mayat. Ia menemukan mayat ibu sedang memeluk anaknya, tertimbun pohon besar. Rambut anaknya, tergulung kawat, sedangkan kaki ibunya juga tergencet pohon.
Karena sulit, diputuskanlah kaki ibu itu dipotong. Sedangkan untuk mengevakuasi anaknya, dipotong pula rambutnya yang terbelit kawat. Setelah itu, mayat ibu dan anak itu dimasukkan ke dalam kantong mayat, berikut potongan kaki dan rambut anaknya. Mereka dimasukkan ke dalam satu kantong mayat. Kantong mayat itu pun dimasukkan ke dalam truk untuk dikirim ke tempat pemakaman missal. Sebelum dimakamkan, semua mayat biasanya difoto terlebih dahulu.
Yang membuat Muhammad Iqbal terperanjat, ketika kantong mayat berisi ibu dan anak itu dibuka, posisi kedua mayat itu seperti posisi pertama ditemukan oleh Tim SAR. Mereka berpelukan, seperti saat ditemukan. Lalu bagian kaki sang ibu yang dipotong, seperti terpasang lagi, alias menyambung. "Kita semua benar-benar terperanjat. Tapi itulah keagungan dari Yang Maha Kuasa," kata Muhammad Iqbal yang juga harus kehilangan banyak keluarganya akibat bencana tsunami.
Pengalaman kedua, saat memasuki hari ke-27 pencarian mayat. Timnya masuk ke daerah Leupung Aceh Besar. Saat itu, ia mencari mayat di antara reruntuhan bangunan. Di daerah itu, yang diperkirakan sekira 12.000 orang meninggal karena tsunami, Iqbal menemukan sosok mayat seorang ustaz. Kepastian bahwa ia seorang ustaz diperoleh dari keterangan warga setempat yang selamat. Yang membuatnya takjub, ternyata mayat ustaz itu masih utuh. Padahal mayat itu sudah hampir sebulan tergeletak.
"Luar biasa sekali, karena dari sekian ribu mayat yang kita temukan setelah 20 hari bencana berlalu, mayat-mayat itu sudah membusuk dan hancur. Tapi ini, benar-benar utuh. Saya yakin, Allah telah menjaganya," kata relawan yang pernah ikut latihan khusus SAR saat di Akedemi Perhubungan.
Kanda, relawan lainnya, mengaku punya pengalaman aneh, sekaligus menakjubkan. Pada hari kelima pascabencana, Kanda sudah terjun ke lapangan mencari mayat. Karena lokasi pencarian yang jauh, Kanda sempat berjalan kaki sejauh 4 km. Saat itu, kebetulan ia dan rekan-rekannya kehabisan bekal makanan dan minuman. Dalam kondisi normal, apalagi kondisi Aceh saat itu sangat terik, Kanda sudah terkena dehidrasi.
Yang membuatnya aneh, ketika sudah berjalan jauh dan kehausan, Kanda menemukan buah kelapa yang datang entah dari mana. Dari buah kelapa itulah, Kanda, Muhammad Iqbal, dan rekan-rekan relawan bisa menyegarkan dirinya. Mereka pun bisa berjalan lagi sepanjang 3 km. Mereka bisa kuat berjalan, padahal mereka saat itu sambil menggotong mayat yang sudah dievakuasi.
Sumber: Pikiran Rakyat
