
Hariadi baru setahun membeli rumah di kawasan Lembang, Bandung. Lantaran sibuk menangani pasien di klinik tempat ia bekerja, ia belum sempat mengisi rumah dengan perabotan. Dokter 40 tahun itu lebih memilih tinggal di rumah mertuanya, tak jauh dari rumah barunya.
Lalu musibah itu datang: gempa bumi dan tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember. Seketika Hariadi berubah pikiran. Hatinya tersentuh menyaksikan penderitaan korban bencana. Ia pun bertekad berangkat ke Aceh secepatnya. Keputusan mengejutkan ia buat: menjual rumah barunya.
"Saudara-saudara kita menderita di Aceh, sementara saya punya rumah yang tidak saya tempati. Dana dari menjual rumah saya kira lebih bermanfaat jika dipakai untuk korban bencana," ujarnya.
Dalam waktu dua hari, ia bisa menjual rumah dengan nilai Rp 70 juta, separuh dari harga rumahnya. Dokter umum itu pun segera membeli obat-obatan, makanan, minuman, dan beberapa peralatan kesehatan. Hariadi terbang ke Aceh pada 30 Desember.
Di kawasan Mata Ie, Banda Aceh, ia membuka klinik kecil di pinggir jalan. Puluhan pengungsi mengerumuni klinik itu, dari korban luka-luka, keluhan dada, sakit kepala, nyeri sendi, demam, hingga diare. "Saya tak berani mengoperasi korban patah tulang atau menangani pneumonia aspirasi. Mereka yang sakit parah saya beri rujukan ke rumah sakit yang ada," kata Hariadi.
Dokter kelahiran Solo itu bekerja sendirian dan tak bergabung dengan dokter-dokter di berbagai rumah sakit lapangan yang bertebaran di Banda Aceh. "Saya memilih mendatangi kamp pengungsian. Mereka ada yang sakit, tapi takut keluar kamp karena trauma pada gempa. Jadi mereka harus didatangi langsung," ungkapnya pekan lalu.
Hariadi adalah salah satu contoh dokter yang bersedia mengorbankan apa saja yang ia miliki demi bisa menolong korban bencana. Ada banyak dokter lain yang melakukan hal yang sama. Dr Gunawan, misalnya, ia pergi meninggalkan kliniknya di Jombang, Jawa Timur, dan terbang ke Aceh pada hari ketiga. Klinik itu ia titipkan temannya untuk dikelola.
Mendarat di Pangkalan Udara Iskandar Muda pada tengah malam, Gunawan menumpang truk tentara untuk bergabung dengan rekan-rekannya dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang mendirikan posko di kantor Kelurahan Lambaro, Aceh Besar. Tim BSMI--terdiri atas 4 dokter dan dua perawat--inilah yang sejak 28 Desember mengisi kekosongan tenaga medis di RS Kesdam. Saat itu di Kesdam hanya ada seorang dokter yang sudah bekerja sepanjang hari dan sudah kelelahan.
Gunawan menyaksikan para pengungsi yang mengalami luka-luka yang sudah membusuk. Karena minimnya alat kesehatan yang ada, beberapa pasien patah tulang hanya diberi penyangga dari kardus dan luka terbuka banyak yang tak bisa dijahit. Terdorong oleh banyaknya korban yang membutuhkan pertolongan, para dokter itu mendirikan rumah sakit lapangan cuma-cuma di kawasan Lambaro, Aceh Besar.
Di rumah sakit yang terbuat dari tenda inilah para dokter dan sukarelawan berkumpul. Namun, jumlah tenaga apoteker dinilai masih sangat kurang. Gunawan pun segera menghubungi istrinya yang juga seorang apoteker untuk segera berangkat ke Aceh. "Karena suami bilang 'berangkat', ya saya berangkat," kata istri Gunawan.
Apa yang mendorong tenaga-tenaga medis itu mengikhlaskan tenaga dan harta bendanya untuk Aceh? "Hati saya terpanggil," kata Gunawan.
Dokter Basuki Supartono SpBO Fics, Ketua Umum BSMI, pada Kamis (10/2), menyebutkan saat ini dana yang sudah disumbangkan untuk Aceh--dari para donatur dalam negeri maupun luar negeri yang menitipkan pada BSMI--telah mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Jumlah ini belum termasuk dari para dokter dan sukarelawan yang lebih memilih merogoh kantong sendiri.
"Terus terang apa yang telah kita berikan ini tak ada apa-apanya, tak sebanding dengan penderitaan saudara-saudara kita di Aceh. Mereka kehilangan segalanya. Orang tua kehilangan anak, anak-anak berlinang air mata ditinggal ayah-ibunya," kata Dokter Basuki yang kini tinggal di rumah kontrakan di Jakarta.
Tak cuma dokter-dokter Indonesia, puluhan dokter dari negara lain pun lebih memilih menguras tabungannya untuk bisa segera pergi ke Aceh. Enam dokter dari India yang bergabung ke BSMI, misalnya, mereka berangkat atas nama pribadi. Mereka tak mau menunggu penunjukan dari pemerintah India. Dengan inisiatif sendiri, mereka mengajukan cuti pada rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Mereka menggunakan kartu kredit untuk membiayai keberangkatan mereka ke Aceh," kata Noor Sahib, penerjemah enam dokter itu.
Di kalangan sukarelawan, semangat yang sama muncul. Asril, salah seorang operator di kilang minyak milik perusahaan raksasa Amerika Serikat, Halliburton, di Duri, Riau, mengajukan cuti dua bulan kepada atasannya. Cutinya tak diizinkan, ia pun pergi ke kantor pusat di Jakarta. "Saya bilang ke bos, saya akan keluar kalau tak diizinkan, eh akhirnya dikasih cuti," tutur Asril.
Asril pergi ke Aceh dengan jalan darat melewati Medan. Ia berangkat bersama 11 orang kawannya. Lalu apa yang dikerjakannya di Banda Aceh? "Saya jadi sopir untuk para dokter. Itu yang bisa saya lakukan. Saya tak peduli orang bilang tak sesuai dengan bidang yang saya kuasai," katanya.
Ia kadang membawa rombongan dokter yang hendak pergi ke Sigli, Kabupaten Pidie, dengan mengendarai Kijang. Pada saat yang lain, Asril sudah berada di belakang kemudi mobil ambulans. Dengan kecepatan tinggi, ia membawa pasien yang harus segera mendapat pertolongan.
Di Mata Ie, Hariadi juga tampak menyalakan motor, motor sewaan. "Saya mau pergi ke Lhoong, di sana katanya kekurangan dokter," ujarnya.
Dari ucapannya, terbayang bagaimana sang dokter harus menempuh perjalanan beberapa jam ke kecamatan di Aceh Besar yang selama sebulan terisolasi itu. Di beberapa jembatan yang terputus, ia mau tak mau harus menurunkan motor ke atas rakit, lalu mengangkatnya kembali di ujung jembatan.
Inilah pilihan takzim para pengabdi kemanusiaan.
By: Yos Rizal - Koran Tempo
