 Saat dikirim ke Irak, Meutya baru beberapa saat kembali dari liputan pasca tsunami di Aceh. Teman-teman di Aceh maupun di Jakarta, kerap terkagum-kagum dengan hasil liputannya.
Saat wartawan lain belum bisa menembus Calang, dengan keberaniannya Meutya turun dari helikopter dan tinggal disana selama beberapa hari. Hasil liputannya kemudian dikirim. Rekan-rekan di Jakarta dan Banda Aceh, kerap terkejut dengan hasil liputannya tentang bencana kemanusiaan yang menelan ratusan ribu jiwa itu.
Suatu ketika ia muncul di Meulaboh dengan membawa hasil liputan dari Teunom. Beberapa hari kemudian Meutya muncul di sng Banda Aceh sepulangnya dari Calang. Sebagai wartawan, Meutya memang sangat luwes bergaul sehingga bisa demikian mobil mengikuti perjalanan helikopter dari sebuah tempat ke tempat lainnya.
Perempuan perananan Sunda dan Makasar ini, memang dikenal sebagai wartawan yang berkemauan keras. Pendidikannya sebagai insinyur Teknik Industri di sebuah universitas di Australia banyak melatihnya berfikir logis.
Gadis ini memang punya kemampuan intelektual lebih dari rata-rata. Sejak SMP Meutya , fasih berbahasa jepang. Karena itu ia sempat menggondol beasiswa dan tinggal beberapa saat di negeri matahari terbit ini.
Dimata Lestari, ibundanya, Meutya adalah sosok anak yang taat. Sejak kematian ayahnya beberapa bulan lalu, metya adalah tiang utama yang menyangga kehidupan keluarganya. Shalat tahajud. Shalat dhuha/ puasa senin kamis, tak pernah ditinggalnya.
Sementara hampir di setiap kesempatan Meutya selalu membaca Al Quran untuk mendoakan ayahnya yang telah tiada.
Jelang kepulangannya ke Jakarta setelah usai melakukan peliputan pemilu. Rapat redaksi di Jakarta sempat berdebat. Sebuah usulan masuk, sebentar lagi peringatan kematian Husein di karbala dilangsungkan.
Semua di redaksi ingin laporan ini berasal dari wartawan kita sendiri di sana. Pilihannya adalah menarik pulang Budi dan Meutya dan mengirim tim lain, atau memperpanjang keduanya disana.
Keputusan pun diambil, dengan pertimbangan liputan keduanya yang bagus disana. Kedua orang ini pun diperpanjang.
Kontak terakhir terjadi selasa lalu. Ia mengirim sms ke Asvin, produser metro hari ini, dan Najwa salah seorang sobatnya, ia mengabarkan dia bersama Budi dalam perjalanan dan perjalanan akan menempuh waktu empat belas jam. Sms itu merupakan kabar terakhirnya hingga kami melihat tayangannya di APTN telah menjadi sandera dengan todongan senjata.
(Machsus Thamrin-Metro TV)

| |
|