 Zarkani menjadi potret korban konflik bersenjata yang sulit untuk disembuhkan. Kendati, tahun telah sering berganti, jiwanya yang teramat keras terguncang, tak juga pulih kembali.
Makam itu sekilas tak beda jauh dengan makam-makam lainnya yang ada di Kampung Simpang Keramat, Kecamatan Blang Mangat, Aceh Utara. Gundukan tanahnya rapi meski sedikit ditumbuhi rumput. Di kedua bagian ujungnya, juga terdapat dua batu nisan yang diambil dari batu sungai berbentuk lonjong seukuran satu setengah kali bola kaki. Hanya saja, ukurannya lebih panjang dari makam rata-rata. Makan itu memiliki panjang hingga 4 meter.
Sesungguhnya, makam yang berada di dalam pekarangan rumah Aisyah, 60 (bukan nama sebenarnya) janda tua di desa itu, bukanlah makam yang sebenarnya. âItu dibuat oleh anak saya sebagai ganti makam ayahnya,â kata Aisyah, Kamis (15/1/2004) ketika ditemui di rumahnya.
Zarkani, putra ke 4 Aisyah dari 5 bersaudara kehilangan ayahnya sejak tahun 1989. Tapi berbeda dengan empat saudaranya yang lain, Zarkani pemuda kelahiran tahun 1969, bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu tak tahan menerima nasib. Pemuda itu kemudian terganggu jiwanya setelah usahanya untuk mencari dimana makam ayahnya tak pernah berbuah hasil.
Menurut ibunya, Zarkani hanya lulus sekolah menengah di desanya sekitar tahun 1984. Setelah itu, karena ketidaan biaya, anaknya tak lagi bisa bersekolah. Kadang, Zarkani membantu ayahnya mengurusi kebun sawit di perkebunan Krueng Pase, yang terletak belasan kilometer dari desanya. Zarkani pun tumbuh layaknya pemuda lain. Ia kerap bermain dengan teman sebaya di desanya yang tenang, berhawa sejuk, dan jauh dari kebisingan yang berada di arah selatan kota Lhokseumawe.
Tapi lima tahun kemudian, sebuah prahara mengguncang jiwanya. Ayahnya, tak pernah kembali setelah memenuhi panggilan aparat TNI yang berposko di kawasan perkebunan PTP Krueng Pase, Kecamatan Syamtalira Bayu Aceh Utara di suatu hari di tahun 1989. Ketika itu Aceh sedang berlangsung Operasi Jaring Merah dan dikenal dengan istailah DOM. Zarkani yang amat dekat dengan ayahnya, tak mau menyerah. Ia selalu pergi setiap kali mendengar ada temuan mayat, dan berharap itu adalah ayahnya. Tapi harapan itu tak pernah ada.
âDari hari ke hari, tekanan mental yang dialaminya semakin parah. Pikirannya selalu pada ayahnya. Itu membuat jiwanya terganggu,â kata Aisyah, ibunya. Zarkani kemudian sempat dibawa ke rumah sakit jiwa di Banda Aceh. Satu setengah bulan bulan dirawat di sana, ia mulai membaik. Keluarga pun membawanya kembali ke desa. âTapi kemudian ia sakit lagi dan lebih parah,â katanya.
Sejak saat itu, gangguan jiwa seperti agenda rutin yang selalu menyinggahi Zarkani. Dalam kurun waktu antara 3-4 bulan, ia mengalami hilang ingatan sampe berhari-hari. Bahkan pernah satu bulan lamanya, hingga terpaksa diikat dengan rantai di dalam rumahnya yang berbentuk rumah panggung dan terbuat dari papan. âBiar dia tidak pergi kemana-mana,â kata ibunya beralasan.
Zarkani juga pernah mengalami pemukulan berat karena masuk ke kamp militer tanpa izin di kawasan Rancung, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1994. Dari rumah, seperti biasa Zarkani pergi tanpa pamit. Dengan menumpang ojek, ia tiba di pintu pagar kamp Rancung. Ia datang ke sana untuk mencari saudara ayahnya yang disebut-sebut ditahan di kamp tersebut.
Sontak, aparat yang berjaga di dekat puntu masuk itu mengokang senjata karena melihat pemuda tak dikenal menerobos masuk. Lebih lagi, pintu masuk biasanya selalu dalam keadaan terkunci rapat. Tapi tidak pada saat Zarkani datang. Tak ayal, Zarkani langsung diinterogasi secara ketat. Karena sedang kumat, jiwanya tak sehat, pertanyaan yang diajukan aparat dijawabnya dengan asal-asal. âKetika pulang, wajahnya sudah bengkak. Hidungnya merah dan sekujur tubuhnya memar-memar,â tutur ibunya, Aisyah.
Muhammad, 34 rekan sekampung Zarkani mengatakan, ketika diinterogasi, aparat tidak tahu kalau Zarkani pemuda yang terganggu pikirannya. Beruntung, ketika ditanya dimana alamatnya, Zarkani menyebutnya dengan benar. Seseorang pun dipanggil untuk mengetahui identitas Zarkani. Saat itu, baru diketahui bahwa Zarkani sedang tak waras. Tapi wajahnya sudah terlanjur bonyok.
Sejak saat itu, kata ibunya, bila bertemu dengan aparat berseragam di tempat-tempat tertentu yang mirip dengan Kamp Rancung, Zarkani sering ketakutan.
Aisyah mengaku sudah tak punya apa-apa lagi, kecuali lahan tempat rumahnya dibangun. Semua sudah habis untuk mengobati anaknya. âSepetak sawah yang saya gadaikan untuk dia berobat beberapa bulan lalu juga belum saya tebus. Belum lagi hutang pada warga desa sebesar 1.5 juta,â katanya. Bantuan pemerintah untuk korban konflik yang sempat dua kali diterimanya, sejumlah 3,5 juta juga habis buat berobat.
Maklum, sebelum mendapat program bantuan berobat lewat dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang disalurkan pemerintah, Aisyah selalu membawa anaknya berobat ke dokter praktik psikiatri di seputaran Jalan Merdeka Lhokseumawe. Sejak 6 bulan lalu, Zarkani dibawa secara rutin berobat ke RSU Cut Meutia Lhokseumawe dengan menggunakan kartu peserta JPS.
***
Bila sedang sakit, Zarkani selalu bertanya tentang keadilan Tuhan pada teman-temannya. Muhammad, temannya sejak kecil bercerita ketika Zarkani pernah bertanya. âMenurut mu apakah Tuhan itu adil? Kalau adil kenapa saya saja yang mengalami seperti ini. Kenapa kamu tidak. Kenapa orang-orang lain tidakâ.
Di lain waktu, Zarkani membuat lagi makam baru. Dia duduk di situ berjam-jam. Bila ada yang bertanya, ia mengatakan sedang berada di makam ayahnya. Bila Zarkani sedang berbuat begitu, tak ada yang mampu menatapnya. âKita tak kuasa menahan haru kalau melihat dia berbuat begitu,â kata Muhammad.
Yang lebih tragis, sebut Aisyah, ibunya beberapa bulan lalu Zarkani malah berenang dalam kubangan darah lembu yang dipotong warga untuk menyambut datangnya bulan puasa. âDia bilang itu darah ayahnya dulu,â.
Begitu sadar, kembali Zarkani berusaha untuk tidak mengingat soal ayahnya yang hilang dan belum ditemukan makamnya hingga sekarang. Tapi itu selalu gagal ketika tanpa sadar, sebuah dorongan kuat menggiringnya untuk melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan keluarganya.
***

 | tragis sekali critanya kak...???!!! |
 | tragis sekali critanya kak..???semoga aja bisa cpt sembuh... |
| |