Blog EntryMata Pelajaran SejarahApr 21, '05 11:21 PM
for everyone
 

Pak guru Suman tak habis pikir, ia diminta oleh kepala sekolah untuk mengajarkan pelajaran sejarah. Padahal selama ini ia hanya menekuni ilmu alam, yang notabene berpaut jauh dengan ilmu sejarah. Namun kenyataan klasik bagi sekolah-sekolah di tempat terpencil tak pernah selesai problem kekurangan guru. “Daripada anak-anak bolos belajar, saya minta bantu Pak Suman bisa mengajarkan sejarah,” harap pak kepala sekolah.

Sebenarnya sekolah itu punya guru sejarah, Pak Bahar namanya. Namun beliau sedang dipanggil ke ibukota provinsi mengikuti penataran. Itu sebabnya tugas mengajar dialihkan ke Pak Suman, kendati ia sangat benci dengan pelajaran sejarah.

Menurut pemahaman Pak Suman, ilmu alam memberikan sesuatu yang pasti dan tetap. Hukum-hukum dalam ilmu alam tidak berubah, meskipun dijungkirbalikkan dari satu fakta ke fakta yang lain. Tentang itu Pak Suman telah membuktikan kebenarannya.

Ternyata kebenaran itu tak ia temukan dalam ilmu sejarah. Fakta sejarah lebih mudah diselewengkan atau ditutup-tutupi. Sejarah lebih sering mengajarkan kebohongan, perihal yang diciptakan manusia seenak perutnya, semau hatinya, sekehendak nafsunya. Ketika manusia memegang kunci sebuah sejarah, maka sejarah tentang sebuah kezaliman bisa dijungkirbalikkan menjadi perbuatan amat terpuji. Seseorang yang pantas disebut pahlawan bisa saja disebut pengkhianat dalam sejarah konvensional.

Menurut pikiran Pak Suman, permainan manusia dalam sebuah sejarah akan menentukan ke arah mana sejarah itu berlanjut. Kezaliman akan tetap berlangsung dari sebuah sejarah yang dirintis dengan kezaliman. Namun bisa saja kezaliman itu tersembunyi dari buku-buku sejarah yang dipelajari di sekolah.
Itulah yang saat ini sedang menjadi beban pikiran Pak Suman. Terlalu sulit rasanya menemukan titik sinkron antara sebuah fakta dengan isi buku sejarah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah. Selama ini terlanjur bagi Pak Suman menganggap sejarah hanya sebuah dongeng. Buku sejarah adalah buku dongeng, memory sejarah adalah memory dongeng, hasil rekayasa orang-orang yang dekat dengan pelaku sejarah.

“Orang-orang inilah yang merehabilitasi saksi sejarah sebagai pahlawan, memutarbalikkan fakta, menindih kebenaran, melenyapkan sebagian saksi-saksi yang patut membuat kesaksian. Dengan begitu sejarah yang muncul ke permukaan dan dipelajari oleh generasi berikutnya adalah sejarah yang telah diselewengkan, yang sebenarnya sama sekali tak patut diajarkan dan diketahui oleh generasi-generasi lain,” tandas Pak Suman sekali waktu di depan rekan-rekan guru seraya menyatakan keberatannya jika harus mengajar mata pelajaran sejarah.
“Tapi kita hanya melengkapi tugas sebagai pengajar, Pak Suman,” tanggap Bu Afni dari sudut ruangan.

“Justru itu, mengajar kan untuk mendidik, apa artinya sebuah kebohongan ditutup-tutupi bagi anak didik?” sela Pak Suman.
“Tapi kalau memang demikian yang tercatat dalam buku-buku sejarah, kita bisa apa?” sergah Bu Afni.

Pak Suman diam. Sebentar ia membuang pandang ke langit-langit ruangan, kemudian turun melintasi dinding tempat bergantungan gambar sejumlah pahlawan nasional. Beberapa helai sarang laba-laba ikut menempel di situ, juga debu-debu yang masuk dari pekarangan. Inventaris sekolah ini tampak tak terawat, sejak penjaga sekolah hengkang membawa keluarga karena tak berani menetap di pedalaman sejak konflik keamanan memuncak.
“Pak Suman akan menggugat pelaku sejarah?” lanjut Bu Afni kemudian.

“Ah, tidak. Tidak demikian maksud saya.”
“Lalu Pak Suman bisa apa?”
“Hahaha... banyak, banyak yang bisa saya ajarkan sejarah-sejarah yang tak tercatat dalam buku sejarah. Tapi saya takut melenceng dan dikucilkan karena tak sesuai kurikulum sejarah,” jawab Pak Suman sekenanya.
“Maksud Pak Suman?” sela Bu Afni dengan dahi berkerut.
“Yaah, saya takut siapa tahu nantinya para anak didik tak lagi percaya pada buku-buku sejarah, ya, saya yang akan disalahkan karena telah mengeksploitasi sebuah sejarah baru lalu menghipnotis mereka untuk mempercayainya.”

“Huuh, Pak Suman mengigau,” omel perempuan itu, kemudian buru-buru meninggalkan Pak Suman sendiri di teras sekolah.
Apapun dan siapapun lainnya yang akan bilang Pak Suman mengigau, tapi begitulah fenomena yang telah terbentuk dalam diri lelaki itu. Ia tetap menganggap buku sejarah adalah buku dongeng, memuat kisah-kisah pelipur lara, tak lebih menarik dari cerita Malem Diwa terbang ke langit setelah mencuri baju terbang milik seorang putri di Negeri Antara. Kemudian ia melintas angkasa, melanglang buana, menggaet cinta Putri Meurindam Diwi yang bersembunyi di Negeri Piadah.

Demikian juga sejarah, adalah dongeng yang di dalamnya ada manusia yang bisa terbang ke langit setelah melakukan sabotase dan meng-kup fakta sejarah. Ada sisi sejarah yang telah dipotong dan dicuri, sehingga tak pernah tertulis dalam buku-buku, bahkan tak ada orang yang berani mengungkit-ngungkit kembali. Menurut Pak Suman, manusia-manusia seperti itulah yang banyak dipuji dalam buku-buku sejarah konvensional, malah ada yang dianggap menjadi pahlawan.

Wajar saja bila kemudian Pak Suman mengucilkan buku sejarah. Sudah berbilang tahun ia menjadi guru, tapi tak pernah membaca buku-buku berbau sejarah. Ia lebih suka menikmati sejarah dari mulut orang-orang tua yang langsung ikut terlibat menyaksikan dan merasakan prilaku sejarah yang sebenarnya. Kendati mereka tak disebut pahlawan, tapi apa yang mereka saksi dan rasakan layaknya lebih pantas dicatat dalam lembaran sejarah tersendiri. Setidaknya mulut-mulut mereka masih bisa mengisahkan realitas dan kebenaran yang diyakini oleh Pak Suman.

Bukan karena cangklaknya bila Pak Suman lebih suka dengan cara orang-orang tua menyampaikan sejarah. Metode begitulah yang sekarang ingin ia pratikkan untuk anak didiknya, biar mereka bisa menikmati sejarah langsung dari sumbernya, tanpa buku tanpa perantara.

Namun darimana Pak Suman harus memulainya? Sejak kapan sebenarnya sejarah bangsa ini telah berlangsung, dan bagian mana yang layak disebut sejarah? Bagian mana yang diselewengkan, bagian mana yang tak tertulis dalam buku-buku, bagian mana yang tak berani diungkap oleh para saksi? Pak Suman bingung. Ia sebentar termangu di depan kelas. Apa sebenarnya yang disebut sejarah? Sejarah mana yang semestinya ia kisahkan buat anak didiknya?
“Apa itu sejarah?” pertanyaan itu meluncur begitu saja ketika Pak Suman terlepas dari kebingungannya.

“Sejarah adalah masa lalu,” jawab seorang murid.
“Sejarah adalah ketika manusia mulai mengenal peradaban,” jawab murid yang lain. Pak Suman memperhatikan murid tersebut, kemudian mulutnya terkuak hendak memberi penilaian. Namun....
“Sejarah adalah prilaku manusia masa lampau yang perlu dipuji atau dicaci maki,” tiba-tiba murid yang lain lagi nyerocos dari sudut ruangan.

“Sejarah adalah guru dalam kehidupan ini, Pak,” murid di deretan paling depan turut nimbrung, seraya menyodorkan referensinya sebuah kalimat Bahasa Latin hystorya vitae magistra.

Tak tahan diserbu jawaban oleh murid-muridnya, Pak Suman memotong cepat, “tepat, tepat sekali, tiga yang pertama sangat tepat. Tapi satu yang terakhir saya tak bisa terima.”
Seisi kelas saling pandang. Ada yang terbingung-bingung. Selama ini belum ada guru yang lantang menilai jawaban seorang murid. Mereka terkecoh dengan tanggapan Pak Suman terhadap jawaban murid yang terakhir tadi.
“Ohoo, jangan bingung. Saya tak bermaksud memojokkan jawaban tadi, saya hanya tak setuju kalau sejarah diasosiakan sebagai guru,” kilah Pak Suman.

Murid-murid tampak agak tenang. Mereka kembali memusatkan mata ke arah depan. Pak Suman kemudian melanjutkan, “Guru adalah profesi yang mulia, tapi sejarah adalah kisah yang amat menjijikkan. Kalian semua telah dibohongi oleh buku-buku sejarah. Banyak kemunafikan di dalamnya yang selama ini kalian pelajari. Kalian seharusnya tahu buku-buku seperti ini sudah tak layak lagi dipakai di kelas,” tandas Pak Suman seraya mengacung-acungkan sebuah buku sejarah ke hadapan murid-muridnya. Semua mereka melotot Pak Suman tak berkedip.
Setelah berunjuk pendapat di depan kelas, Pak Suman terduduk kembali di meja depan. Ia mencoba mengingat kembali beberapa fakta sejarah yang ingin ia ungkapkan. Beberapa jenak ia terpekur menundukkan mata, hampir tak sanggup bertahan air mata. Huh, amat memalukan bila ini terjadi di depan murid-muridnya.

“Bila terjadi pembantaian anak bangsa oleh sebuah rezim, maka dalam sejarah sering dicatat sebagai revolusi peradaban,” Pak Suman mulai mengeluarkan idealismenya. Kali ini ia tak segan-segan lagi mendemonstrasikan beberapa fakta sejarah, yang tak tertulis dalam buku-buku, yang menimpa dirinya.

“Coba kalian lihat, di sini masih membekas bukti prilaku sejarah,” tegas Pak Suman menahan getir, sambil membuka beberapa bagian pakaiannya. “Ini adalah bekas goresan bayonet, dan ini bekas luka terjangan peluru,” tunjuknya ke bagian bahu dan lengannya. “Inilah sejarah kita, yang saya sendiri menjadi saksinya. Dan ini tak pernah tertulis dalam buku-buku.”
Pak Suman mendadak merasa dadanya perih. Ia tak lagi sanggup membayangkan bagaimana peristiwa pahit itu menimpa dirinya beberapa tahun yang lewat. Ketika itu ia baru pulang mengajar ketika mendadak terperangkap dalam baku tembak antara pasukan pemerintah dengan kelompok gerilyawan di ujung kampung yang terus dilanda konflik keamanan.

Pak Suman tak sempat lagi memperhatikan murid-muridnya. Pandangannya makin menekur lantai, beberapa butir air terkelupas dari kelopak matanya. Ketika beberapa saat kemudian ia menegakkan tatapannya, ia tak lagi melihat murid-muridnya di dalam ruangan. Seisi kelas sepi, tinggal Pak Suman sendiri.

“Aku tak mengerti apa sih maunya Pak Suman itu,” terdengar beberapa murid mengomel di kantin sekolah.***

(Cerita ini dipublikasikan di Harian Serambi Indonesia, Minggu 26 Sept 2004. Penulis, M Nasir Age, seorang wartawan yang bekerja pada Harian Waspada Medan dan menetap di Lhokseumawe, ingin menyampaikan betapa segala sesuatu tak bisa diungkapkan dengan jelas di Aceh. Karena kondisi dan statusnya sebagai daerah darurat.)



sawitri wrote on Apr 22, '05
Hahaa.. jadi inget, pngalaman nilai rapot merah itu ya cuma mata pelajaran SEJARAH. Bahkan dulu pernah gagal masuk 10 besar cuma karna beda nilai di SEJARAH sama yg ranking 10, rasanya gondooook banget.
Mungkin hapalan gw eror banget yah, jd ga pnah sanggup ngapalin nama2, tanggal2 & tempat2 kejadian bersejarah. Kayanya sampe sekarang taun yg berhasil nempel di otak sampe sekarang tuh cuma Perang Diponegoro (1825), Perang Padri (1830), trus perang apa tuh yg perebutan Irian Jaya, Dwikora yah klo ga salah (1 Mei 1963), ancur banget kan?
Tapi klo apalannya payah, knapa giliran ngapalin nama2 latin Biologi bisa lancar banget yah?
Dan yang pasti seneng banget waktu kuliah, karna da ga ktmu lagi sama yg namanya pelajaran SEJARAH itu! hhhffff.. Sejarah oh Sejarah..
zainalbakri wrote on Apr 22, '05
sawitri said
Hahaa.. jadi inget, pngalaman nilai rapot merah itu ya cuma mata pelajaran SEJARAH. Bahkan dulu pernah gagal masuk 10 besar cuma karna beda nilai di SEJARAH sama yg ranking 10, rasanya gondooook banget.
Mungkin hapalan gw eror banget yah, jd ga pnah sanggup ngapalin nama2, tanggal2 & tempat2 kejadian bersejarah. Kayanya sampe sekarang taun yg berhasil nempel di otak sampe sekarang tuh cuma Perang Diponegoro (1825), Perang Padri (1830), trus perang apa tuh yg perebutan Irian Jaya, Dwikora yah klo ga salah (1 Mei 1963), ancur banget kan?
Tapi klo apalannya payah, knapa giliran ngapalin nama2 latin Biologi bisa lancar banget yah?
Dan yang pasti seneng banget waktu kuliah, karna da ga ktmu lagi sama yg namanya pelajaran SEJARAH itu! hhhffff.. Sejarah oh Sejarah..
he.. he.. he.. nggak apa apa wit kalau cuma sejarah yg merah, asalkan biologi, fisika, matematika, dan yg lainnya bagus bagus he he he
moyas wrote on Apr 24, '05
Menurut pemahaman Pak Suman, ilmu alam memberikan sesuatu yang pasti dan tetap. Hukum-hukum dalam ilmu alam tidak berubah, meskipun dijungkirbalikkan dari satu fakta ke fakta yang lain. Tentang itu Pak Suman telah membuktikan kebenarannya.
Ilmu alam yang sudah masuk buku teks mungkin memang benar. Tapi ilmu alam yang sedang dibangun (sedang dikerjakan, dicari kebenarannya), tidak ubahnya seperti sejarah. Banyak kontroversi, pertikaian, sampe akhirnya "temuan" atau "hasil experimen" si pemenang yang bakal muncul di buku teks.
zainalbakri wrote on Apr 24, '05
moyas said
Ilmu alam yang sudah masuk buku teks mungkin memang benar. Tapi ilmu alam yang sedang dibangun (sedang dikerjakan, dicari kebenarannya), tidak ubahnya seperti sejarah. Banyak kontroversi, pertikaian, sampe akhirnya "temuan" atau "hasil experimen" si pemenang yang bakal muncul di buku teks.
benar sekali mas.. trims banget udah berbagi ...
alb3ert wrote on Jan 21, '07
Sejarah yang berkembang di Mata pelajaran sekolah SMU sekrang.. adalah sejarah yang bersifat menghapalkan... tanpa diikuti nilai-nilai kebijaksanaan di dalamnya. Tidak ada dalam pelajaran sejarah yang bersifat aktif dilakukan untuk siswa. yang ada hanyalah ujian yang bersifat mengapalkan. salah satu pertanyaan tersulit yang dijawab oleh guru sejarah sekarang adalah... Dari manakah nenek moyang Indonesia itu?
zainalbakri wrote on Jan 27, '07
alb3ert said
Sejarah yang berkembang di Mata pelajaran sekolah SMU sekrang.. adalah sejarah yang bersifat menghapalkan... tanpa diikuti nilai-nilai kebijaksanaan di dalamnya. Tidak ada dalam pelajaran sejarah yang bersifat aktif dilakukan untuk siswa. yang ada hanyalah ujian yang bersifat mengapalkan. salah satu pertanyaan tersulit yang dijawab oleh guru sejarah sekarang adalah... Dari manakah nenek moyang Indonesia itu?
Betul sekali bang, begitulah realitas yang terjadi di negeri ini sekarang. Semoga kedepan bisa dirubahdalam kurikulum yg lewbih baik, selain juga meluruskan beberapa hal penting yg masih diduga keliru dalam catatan sejarah bangsa ini. trims
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help