Senin, 5 September kemarin mobil yang kami tumpangi membelah jalan desa di sebuah kawasan pedalaman Aceh Utara. Saya mendampingi seorang wartawan dari Korea Selatan. Selain kami berdua, di dalam mobil juga ada seorang anggota GAM yang akan membawa kami bertemu dengan sejumlah rekannya yang telah turun gunung.
Sepanjang jalan yang kami lewati, terasa benar suasana yang amat berbeba dengan setahun yang lalu. Desa ini, nyaris selalu menjadi tujuan hampir semua wartawan yang singgah di Lhokseumawe. Maklum dari kawasan ini pula sejumlah petinggi TNA (sayap militer GAM) bermunculan.
Yang amat membedakan adalah senyum dan kebahagian yang terpancar dari wajah wajah penduduk setempat. Mereka terlihat tidak lagi menunduk, dengan wajah ketakutan tatkala ada orang asing ataupun mobil milik orang luar desanya melintasi di depan mereka. Yang terlihat kini justru sebaliknya. Masyarakat begitu gembira menyambut siapapun yang datang ke sana.
Di sebuah kedai yang menjual kopi, sejumlah pemuda berbadan tegap, rata rata mengenakan kaos, celana jeans dan beberapa diantaranya berambut gondrong. Saat itu mereka sedang menikmati kopi sembari mengisap rokok. Mereka lah yang selama ini sering menjadi sasaran liputan media, anggota GAM yang baru turun gunung.
Kawan saya yang dari Korea, langsung mengenalkan diri dan meminta izin untuk mengambil photo. Tapi ketika giliran saya mengeluarkan handycam untuk mengambil video, mereka serentak bangkit sambil mengangkat tangan. memberi isyarat untuk tidak merecord. "Maaf bang, kami belum berani untuk muncul di media nasioanal," ujar salah satu yang paling senior.
Jadilah saya pulang tanpa berita. Tapi saya cukup gembira, karena saya bisa kembali kapan pun saya mau. Berbeda dengan wartawan lain, yang hanya datang dan pergi untuk meliput konflik Aceh. sedangkan saya, sudah berada di Aceh, sebelum konflik GAM dan Pemerintah pecah.
Yang penting, saya sudah bisa melihat senyum masyarakat desa kembali. Senyum yang sempat hilang sejak beberapa tahun silam.