Blog EntryMemijak Bumi, Menjunjung Langit Feb 2, '06 9:36 PM
for everyone
Sejak kembali aktif menulis di berbagai media di tanah air, setelah
hampir sembilan tahun vakum karena kesibukan kerja dan perjuangan
hidup lainnya di perantauan, beberapa nama yang cukup dikenal di
tanah air kembali mengontak saya melalui e-mail. Ada beberapa hal
yang saya perhatikan dari komunikasi dengan mereka tersebut, yang
sebenarnya cukup menarik ditinjau dari perbedaan kultur dan beberapa jenis perbedaan lainnya.

Pertama, kultur Indonesia sangat membedakan kelas sosial. Karena
jurang ini, maka komunikasi antar pribadi sering kali
menjadi "terhalang" oleh birokrasi yang sebenarnya tidak perlu
eksis. In the end, komunikasi terhalang, sehingga hasil akhir bisa
jadi kurang optimal. Contohnya saja, dengan menyuruh sekretaris
untuk mengetikkan e-mail, sebenarnya ada beberapa hal yang cukup
transparan, salah satunya adalah "tingginya" status sosial orang
tersebut sehingga ia lebih senang segala sesuatu dioperasikan oleh
orang lain (terlepas dari sibuk atau tidak sibuknya seseorang).

Saya sendiri selama di perantauan belajar untuk down-to-earth, dari
ke mana-mana diantarkan oleh supir menjadi my own personal driver
alias nyupirin diri sendiri. Dari seringnya menyuruh-nyuruh errand
runner ("office boy" kalau di Indonesia), sekarang membersihkan
toilet di kamar mandi pun sendiri, padahal di kartu nama saya,
tercantum jelas posisi saya sebagai Chief Executive Officer.

Perjuangan hidup yang keras membuat saya sangat menghargai
pekerjaan "sepele" demikian, dari menjawab semua e-mail sendiri,
termasuk e-mail dari "fans," menjawab telpon sendiri, memasak
sendiri (well, kadang-kadang makan di restoran juga kalau sudah
jenuh), membersihkan rumah sendiri, menjawab semua pertanyaan
mahasiswa saya sendiri, sampai mempersiapkan proyek-proyek
konsultasi saya yang bernilai ribuan bahkan puluhan ribu dollar
sendiri. Di lain kesempatan, saya pula yang membawa mobil ke bengkel untuk segala macam tetek-bengeknya.

Di samping itu saya sendiri pula yang memilih produk-produk
investasi sebagai safety net masa depan. On top of that, sebagai
seorang istri, saya juga mesti make sure bahwa rumah tangga berjalan
dengan sebaik-baiknya dan rumah dalam keadaan sebersih-bersihnya,
sehingga suami merasa nyaman.

Jadi, pekerjaan saya merangkap dari pembantu rumah tangga, office
girl, ibu rumah tangga, CEO, guru, konsultan, CFO dan CIO. Kalau
tidak percaya, Anda bisa tes pengetahuan saya soal membersihkan spot
di karpet. Juga cara memilih pakaian yang bisa dicuci dengan mesin
cuci tanpa menyebabkan banyak kerutan. Di samping itu, Anda juga
bisa ajak saya menganalisa harga properti di berbagai negara,
termasuk AS, Australia dan Inggris. Apalagi soal eCommerce. Mungkin
pengetahuan ini bisa saya tuangkan dalam 10 buku. Saya punya pilihan
dan financial resources untuk tidak down-to-earth, namun saya
memilih untuk down-to-earth karena perasaan gratitude yang besar.

Dengan beraktifitas sebagaimana seorang pembantu rumah tangga,
apakah ini berarti kelas sosial saya turun? Anda bisa menjawab
sendiri, karena sebenarnya kelas sosial tidak ada hubungannya sama
sekali dengan pekerjaan-pekerjaan "sepele" yang down-to-earth, yang
kadang-kadang di pandang "rendah." Bahkan teman-teman saya yang
masih gadis tidak jarang yang berkata, "Setelah menikah, gua cuma
jadi babu saja di rumah." Sayang, ternyata banyak manusia yang
memberi "nilai" bagi suatu pekerjaan, padahal semua itu sama saja di
dalam spiritual realm.

Semua itu merupakan meditasi yang kembali mengingatkan saya akan
akar perjuangan hidup saya. Sesuatu yang sangat saya hargai setiap
hari. Bahkan, ini juga mengingatkan bahwa saya ini dalam keadaan
kesehatan yang baik, sehingga bisa mengerjakan ini semua. Bukankah
dengan demikian artinya menyapu dan mencuci piring adalah berkah
yang tidak terhingga? Bahkan dalam ajaran Zen, seorang pengikut
pemula diwajibkan untuk selalu membersihkan dwelling-nya dengan
penuh awareness.

Berkah yang lainnya adalah kesempatan saya untuk berkomunikasi sama
tinggi dengan orang lain tanpa perantara birokrasi yang tidak perlu.
Bahkan walikota New York City Mayor Bloomberg saja menerima telpon
di rumah sendiri. Nomor telponnya bisa dicari di buku telpon (white
pages) kota New York, dan semua warga kota itu punya akses untuk
menelponnya secara langsung. Hal seperti ini di dalam arena
percaturan politik suatu negara merupakan contoh demokrasi yang
paling nyata. (Yang jelas Pak Bloomberg ini luar biasa sibuknya
karena memanage satu kota yang bukan main kompleks dan besarnya
yaitu New York City. Jadi, kalau Anda baru mengepalai satu divisi
atau bahkan satu perusahaan saja, semestinya tidak ada alasan untuk
tidak down-to-earth. Semuanya adalah pilihan.)

Bukankah sayang sekali jika kita menciptakan barrier dengan orang
lain demi "meninggikan status sosial" kita, padahal ini tidak
menguntungkan bagi diri kita sendiri? Kalau Mayor Bloomberg saja
begitu down-to-earth, bukanlah tempatnya bagi saya untuk tidak
berbuat demikian, bukan?

Kedua, menjadi pelayan bagi diri sendiri dan orang lain merupakan
ungkapan penghargaan yang sebesar-besarnya akan apa yang kita
miliki. Orang-orang religius menyebutnya sebagai "give thanks for
God's blessings."

Dengan memijak bumi sedemikian dalamnya, maka langit (sebagai
analogi dari Yang Maha Kuasa) semakin dijunjung. Sebaliknya, semakin
tidak memijak bumi, selain direct communications dengan orang lain
tidak berjalan dalam garis paralel (yang nota bene memungkinkan
terjadi berbagai jenis misunderstanding), awareness yang dimiliki
tidak diasah sebagaimana mestinya.

In the end, segala macam intelligences (multiple intelligences)
bermuara kepada awareness. Ini juga yang menyebabkan mengapa many
smart people do stupid things (banyak orang pintar yang melakukan
hal-hal bodoh). Tentu saja untuk seorang bodoh seperti saya, semakin
perlu bagi saya untuk meninggikan awareness supaya suatu hari saya
bisa keluar dari belenggu kebodohan saya.

Salah satu cara yang jitu adalah berpijak kepada bumi (down-to-
earth) dalam kehidupan sehari-hari dan selalu ingat bahwa dengan
berlaku demikian, semakin banyak pintu yang akan terbuka karena law
of attraction. Prinsip ini memungkinkan orang-orang yang sejenis
kepribadiannya untuk saling tertarik. Jelas saya sendiri lebih
tertarik untuk bergaul dengan orang-orang yang terbuka hati dan
pikirannya serta down-to-earth daripada yang inferior dengan cara
menutupi kekurangannya melalui penggunaan status sosial orang lain.

Percayalah akan kemampuan Anda dalam berkarya dan pijaklah pada bumi
senantiasa. Langit pun akan kau junjung.[]

Sumber: Memijak Bumi, Menjunjung Langit oleh Jennie S. Bev. Jennie
S. Bev adalah penulis, edukator dan konsultan perantauan yang telah
menerbitkan 19 buku dan lebih dari 900 tulisan di manca negara.
Bermukim di Kalifornia Utara, prestasinya telah dimuat oleh berbagai
media internasional. Baca tentang prestasi dan perjuangan hidupnya
di JennieSBev.com.


(sumber: resonansi milist)


nursani wrote on Feb 8, '06
bagus .dalem ya nasehatnya,btw kalo banyak yang dah menjunjung dan nginjak bumi bener2 tapi terus diinjek2 gimana? akhirnya semua bertopeng juga...
zainalbakri wrote on Feb 8, '06
nursani said
btw kalo banyak yang dah menjunjung dan nginjak bumi bener2 tapi terus diinjek2 gimana? akhirnya semua bertopeng juga...
wah itu udah di luar konteks ya. atau harus mensosialisasikan hal ini juga kepada orang yg menginjak, sebelum ia melakukannya kali ya :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help