Blog EntryNuraini Hasbi di Tengah Konflik AcehNov 12, '04 6:41 PM
for everyone
Tubuh kurus Nuraini Hasbi, 40 warga Desa Drien Puntong, Meurah Mulia, Aceh Utara masih berbalut lumpur sawah. Bebebapa jam menjelang waktu berbuka puasa tiba, ia dan seorang anak gadisnya, Darhamidah, 18 masih harus bekerja keras untuk mengharapkan beberapa lembar uang ribuan rupiah. Dari uang itulah ia kemudian dapat membeli beras yang hanya cukup dimakan satu kali bersama empat orang anaknya.

Sejak suaminya terbunuh pertengahan Juli tahun 1999 silam, Nuraini harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya. Yang paling kecil, Musafir, 4 masih berada dalam kandungan ketika sang suami terbunuh tanpa alasan yang jelas. Yang sampai ke telinga Nuraini, suaminya dibunuh karena dituding mencari dana untuk perjuangan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Anak ini baru 7 bulan saya kandungi, ketika ayahnya ditemukan tak bernyawa di dalam sebuah sungai di Blang Naleung Mameh,” kata Nuraini dengan mata berkaca-kaca.

Milyaran rupiah dana kemanusiaan yang dikucur pemerintah untuk orang-orang seperti Nuraini, yang jelas-jelas menjadi korban konflik ternyata tak pernah menyentuhnya selama bertahun-tahun. Bahkan setelah operasi terpadu berlaku di daerah ini. Para pelaksana operasi kemanusiaan yang terdiri para pejabat pemerintah daerah, seperti tak melirik ke arahnya. Ia terlupakan dalam riuhnya konflik bersenjata yang tak pernah usai setelah puluhan tahun berlalu.

Lebih tragis lagi, ketika mencoba untuk mengurusnya ke kantor kecamatan, jawaban yang ia dapatkan justru membenamkan harapannya. “Mereka bilang, korban seperti saya ini tidak akan pernah mendapatkan bantuan. Saya kemudian diberikan selembar surat miskin disuruh mencari sumbangan sendiri,” tuturnya. Tapi ia merasa itu tidak mungkin, apa lagi Musafir, bocah malang yang tak pernah melihat wajah ayahnya baru lahir beberapa bulan. Untuk kembali ke rumah dari kantor camat pada hari itu, untung lah ada orang yang mengenalnya dan memberinya uang Rp. 5.000 untuk ongkos kenderaan. Karena ia sudah tak punya uang sesenpun.

Usman Ben, 50 suami Nuraini ketika masih hidup merupakan warga desa yang tak memiliki keterampilan apapun. Dia juga menjadi salah warga yang paling miskin di desanya. Tak ada harta apapun yang dimilikinya, meski sebuah sepeda tua. Karena itu, berbekal Surat Keterangan Miskin dari Camat setempat, setiap hari ia pergi dari rumah mencari sumbangan dari orang-orang yang mau memberinya Rp. 500 hingga Rp. 1.000 untuk dibawa pulang kepada isteri dan anak-anaknya.

Banyaknya tanggungan yang harus ia beri nafkah, membuat usaha mencari sumbangan yang dilalakukan Usman jauh menembus batas antar provinsi. “Kadang berhari-hari ia tidak pulang karena pergi ke Medan. Di Aceh, hampir semua kota dia datangi. Takengon, Meulaboh, Sigli hingga ke Banda Aceh,” kata Nuraini menjelaskan. Tapi karena terpakai untuk biaya transport dirinya sendiri dan makan selama melakukan perjalanan, uang yang dibawa pulang Usman tetap hanya cukup untuk membeli beras dua tiga hari.

Nuraini bercerita tentang hari-hari terakhirnya bersama suami ketika ditemui di rumah panggungnya yang mulai lapuk di Desa Drien Puntong, sekitar 25 kilometer arah tenggara kota Lhokseumawe yang dibangun pada tahun 1996 lalu. Rumahnya terletak diantara areal persawahan di tengah desa. Tiga dari empat orang anaknya, Darhamifah, 18, Muklima dan Musafir, 4 terus menemani Nuraini pada sore hari itu. Sedangkan Abdul Hadi, 21 yang paling tua, dikatakan Nuraini sedang berusaha mencari rezeki di pasar kecamatan. Tidak jelas apa yang dilakukan Hadi di sana.

“Saya masih ingat, pagi itu 24 Juli 1999 seperti biasa dia berangkat sekitar jam 7 pagi setelah sarapan seadanya. Dia bilang hari itu mau pergi ke Simpang Keramat,” tutur Nuraini mengenang. Tapi hingga sore pukul 5, saat-saat paling telat bagi Usman selama ini kembali ke rumah, tetap belum terlihat. Suara mesin ojek yang selalu terdengar mengantar Usman di ujung pematang sawah, pada sore hari itu sama sekali tidak terdengar suaranya.

“Saya mulai panik. Dalam kekadaan hamil tujuh bulan, dengan perut membesar saya tetap berusaha keluar rumah utuk mencarinya. Saya pergi ke Simpang Keramat, tapi orang-orang di sana mengaku tak mengenalinya,” sebutnya. Dalam keadaan kebingungan, Nuraini singgah di kota Lhokseumawe. Atas saran orang-orang yang ditemuinya di dalam bis, ia suruh mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum yang selama ini turut menangani korban orang hilang karena konflik.

Tapi upaya pencarian yang dilakukan Nuraini sia-sia. Uang yang harus dikeluarkannya untuk biaya tranport sudah cukup untuk membeli beras selama tiga hari. Itu sudah merupakan pengeluaran yang tak sedikit untuk ukuran keuangannya. “Akhirnya saya berhenti mencari. Hingga empat hari kemudian ada khabar bahwa di ruang mayat rumah sakit umum ada sesosok mayat. Saya langsung ke sana.”

Tiba di ruang mayat, Nuraini nyaris pingsan. Dari pakaian yang dikenakan korban, ia sudah dapat memastikan bahwa tubuh yang terbujur kaku itu adalah suaminya yang tercinta. Meski dari sisi bentuk, tubuh Usman sudah mengembung dan menimbulkan bau yang menyengat hidung. “Menurut pihak rumah sakit, suami saya ditemukan terapung di dalam sungai Blang Naleung Mameh (lebih tiga puluhan kilometer dari rumahnya),” sebut Nuraini. Dalam keadaan nyaris pingsan, ia mengurutkan tangannya di bagian perut. Dua bulan lagi anak itu akan lahir tanpa ayah.

Tak ada informasi yang jelas yang diterima Nuraini ihwal kematian suaminya. Pihak kepolisian juga tidak pernah mengusut. Beberapa saksi mata, kata Nuraini menyebautkan, suaminya disergap karena diduga mencari dana bagi kelangsungan operasi kelompok bersenjata. Tapi tak ada penjelasan dari pihak manapun tentang kebenaran informasi itu. Yang diyakini Nuraini dan anak-anaknya, suami dan ayah mereka hanyalah orang miskin yang mencari sumbangan untuk menyambung hidup.

Sejak saat itu, Nuraini harus membanting tulang. Tak ada lagi tempatnya menggantung harapan. Tak ada lagi cerita tentang orang-orang kaya yang baik hati yang mua memberi suaminya uang pecahan seribu rupiah. Pun suara ojek yang mengantar suaminya pulang di kala sore dengan bungkusan plastik berisi beras. Semua sudah berakhir sejak bulan Juli 1999.

Tapi penderitaan belum berakhir sampai di situ. Air mata Nuraini kerap menitik tanpa dapat dibendung setiap hari raya menjelang. Saat Muklis dan Musafir meminta Nuraini agar membelinya baju baru seperti teman-temannya yang lain. Bila sudah begitu, ia hanya dapat berkata lirih, ”Yang penting kita dapat beli beras nak...”

***



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help