Blog EntryMenjauhi Dendam Feb 16, '06 9:30 PM
for everyone
Dalam kehidupan kita ini, ada orang-orang yang merasa hidupnya
hanyalah akan berarti apabila mereka mampu membalas dendam. Bagi
orang-orang yang memendam dendam ini, tidak ada kehormatan atau makna lain selain terbalasnya dendam kesumat tersebut.

Dendam sebenarnya juga merupakan sebuah cita-cita, namun biasanya
lebih bermakna negatif. Cita-cita itu memang penting dimiliki oleh
siapa pun. Cita-citalah yang bisa memberi kekuatan atau dorongan yang
sangat besar. Cita-citalah yang men-drive seseorang menuju impiannya.
Tetapi sekali lagi, dendam adalah sebentuk cita-cita yang negatif.

Memang dendam itu memberikan energi yang luar biasa besar, tetapi
juga membutakan mata, mematikan perasaan, dan melenyapkan akal sehat.
Dendam selalu mendorong orang untuk menyakiti, melecehkan,
meruntuhkan moral, menghancurkan, bahkan memusnahkan pihak lain.
Tanpa pandang bulu dan bila perlu melawan siapa pun yang menghalangi
terbalasnya dendam itu. Petaka dendam semacam ini dapat kita lihat
dalam kisah-kisah kerajaan di masa lalu, tapi juga masih ada di
kehidupan kita sehari-hari hingga saat ini.

Orang bisa saja memiliki dendam yang sangat kuat, ada pula yang
bersifat ringan. Namun dendam tetaplah dendam yang apabila dibalaskan
akan menimbulkan masalah baru. Yang sangat-sangat berbahaya dari
dendam adalah kemampuannya untuk menciptakan dendam balasan. Dendam
yang terlampiaskan akan melahirkan dendam kesumat baru di pihak yang
dihancurkan. Anak keturunan atau siapa pun yang terkait akan
melanjutkan dendam dan bersumpah membalaskan dendam tersebut. Seperti
lingkaran setan yang tak berujung pangkal.

Satu-satunya buah dendam hanyalah samudera keperihan yang tak
bertepi. Tetapi hingga detik ini, kita saksikan tindakan-tindakan
brutal tak berperikemanusiaan yang melahirkan dendam-dendam baru.
Kita lihat bagaimana perang yang terjadi di Timur Tengah atau belahan
bumi lainnya, di mana tindakan saling bunuh dan saling menghancurkan
telah menimbulkan dendam kolektif yang luar biasa destruktif.

Dalam benak saya, alangkah indahnya jika keseluruhan energi dan
pikiran kita difokuskan bukan untuk melampiaskan dendam, tetapi
dicurahkan untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat baik untuk diri
pribadi kita maupun orang lain. Alangkah damainya republik ini jika
setiap dari kita ikut serta dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan
demi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita, serta mereka yang
membutuhkan pertolongan kita. Hilangkan dendam antar golongan, suku,
agama, ras, ideologi atau keyakinan politik. Sesungguhnya kita
dipersatukan dalam tindakan kebaikan.

Sumber: Menjauhi Dendam oleh Andrie Wongso
Milist: Resonansi




Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help