Blog EntryRindu Sang Prajurit ...Nov 13, '04 11:16 AM
for everyone
Kopral Suparja bergegas mengambil wudhuk di belakang barak. Suara percikan air yang keluar dari sebuah pipa kecil berukuran ¾ inchi terdengar jelas. Sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Waktu untuk menunaikan shalat Dzuhur hanya tersisa sedikit baginya. Di sebuah ruangan kecil, yang dikhususkan sebagai tempat shalat prajurit, Suparja meminta tempat diantara teman-temannya yang telah lebih dulu selesai melaksanakan ibadah wajib tersebut. Ia kemudian meletakkan senjata serbu jenis SS-1 disebelah kanannya dan memulai ibadahnya.

Suparja adalah bagian dari pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Kaveleri 1 yang bermarkas di Cijantung, Jakarta. Mereka sedang bertugas operasi di Nanggroe Aceh Darussalam.

Bagi para prajurit Kostrad TNI itu, ibadah tetap dilaksanakan dalam situasi tugas dan kesiagaan mengahadapi berbagai kemungkinan serangan dari musuh. Karena itu pula, mereka mengaku meski di depan teman-temannya tetap berjaga dengan senjata lengkap, saat shalat senjata masing-masing tetap diletakkan disampingnya. Tak heran bila senapan mesin otomatis minimi ikut hadir saat merkea sedang shalat. Nyaris tidak ada kesempatan, tanpa senjata saat kemanapun mereka bergerak.

Kopral Suparja, 31 ayah dari dua orang anak itu mengakhiri shalatnya dengan ucapan salam. Sejurus kemudian, dia meraih sebuah Al Quran kecil yang tergeletak di sebelah mimbar. Di bukanya Al Quran itu agak ke tengah. Ia memilih salah satu surat dan kemudian membacanya perlahan. Suaranya menambah semarak suasana di dalam ruangan kecil itu, karena beberapa rekannya juga tampak sibuk berzikir dengan mata terpejam.

Semua shalat dengan pakaian dinas dan berpeci hitam. Di sebelah Suparja, juniornya Prada Yogi Sofyan juga membaca kitab suci ummat Islam. Suara Yogi terdengar kecil dari Suparja. Tapi Yogi tampak lebih khusyuk. Tubuhnya membungkuk di atas selembar sajadah berwarna kuning bergambar masjid.

Suparja mengaku selama bulan Ramadhan, kegiatan ibadah yang diakukannya meningkat dari bulan sebelumnya. “Selain itu selama Ramadhan ini saya ingin mengkhatam Al Quran paling nggak sekali,” katanya kepada Tempo.

Saat-saat sedang berada di tempat shalat, pikiran Suparja sering kali terbang ke Jakarta. Kalau sudah begitu, wajah isteri dan dua anaknya selalu melintas. “Kalau udah rindu keluarga, saya mengalihkannya dengan baca Al Quran atau berolah raga di belakang pos,” katanya.

Gaji yang kecil membuatnya harus menahan diri untuk bisa sering-sering berbicara dengan keluarga lewat telepon. Biaya interlokal dari Aceh ke Jakarta cukup mahal baginya. Tapi karena kerinduan pada suara manja kedua ananya kerap menyesak di dada, Suparja harus pintar mengatur uang untuk bisa bisa berbicara dengan “buahhatinya” palingtidak seminggu sekali. “Saya hanya bisa menelpon mereka seminggu sekali. Sekali telpon tidak boleh lebih Rp. 30.000. Kalau telpon setiap hari tidak ada duit”

Suparja sudah hampir 5 bulan bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, kerinduannya pada keluarga dalam beberapa waktu ini agak berbeda dengan sebelumnya. Selama Ramadhan, ia mengaku ada sesuatu yang hilang. “Mungkin karena biasanya selama Ramadhan selalu ada di rumah dan berbuka puasa bersama isteri,” katanya.

Perasaan seperti Suparja ternyata juga dirasakan oleh atasannya Letnan Satu Waryono. Kerinduan pada keluarganya ditutupi dengan menambah intensitas melaksanakan shalat sunat setelah usai melakukan shalat wajib. “Rasa ingin ketemu keluarga sering datang pada saat tidak ada kegiatan,” tuturnya.

Tapi agak lebih mudah bagi Waryono karena bujangan ini dapat berkomunikasi dengan kedua orang tuanya lewat sms. Dari segi biaya, ‘short message service’ jauh lebih irit dari pada harus interlokal. Sedang Suparja, jangankan untuk membelikan hp bagi isterinya untuk mempermudah berkomunikasi, untuk dirinya saja dia tak memilikinya.

Waryono, Suparja dan semua prajurit yang baru selesai melaksanakan ibadah kemudian bergegas bangkit dan mengenakan sepatu. Di luar suara tank kembali menderu.

Waktu untuk berbuka masih cukup lama. Tapi beberapa yang bertugas menyiapkan bahan berbuka sudah mulai bekerja di dapur, untuk menyiapkan makanan yang akan disantap ketika berbuka puasa bersama.

***



roseknt wrote on Jul 27, '06
setelah membaca blog ini...saya jadi teringat sama tmn ku yg tugas di aceh,sblm tsunami...
yah yg critanya hampir mirip begini,dan sedih di saat tsunami terjadi...apalagi yg satu ,pacar dari saudara mesanku .....tk bisa kubayangkan perasaanku waktu itu,saluran tlpn di aceh ,
putus total tk bisa dihubungi,sedang saudaraku nangis terus tiada henti.semoga keadaan aceh skrg udah membaex.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help