Blog EntrySekolah Hidup Susah Oct 28, '07 10:21 PM
for everyone
Sekolah Hidup Susah

Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak
siapa saja siap menjadi orang susah.

Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka
kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi,
tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana
menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting.
Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa
butuh "imunisasi".

Menerima kenyataan

Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima
kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari
kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi.
Anak dilatih merasakan kegagalan.

Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang
lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek.
Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami
seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan
krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka
stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak
tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga
kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan
kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok
menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja
keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak,
selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik
orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa
Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa
sepantar karena memiliki "virus" n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang
tinggi.

"Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan
pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng,
pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-
modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.

Jiwa getas

Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak
merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa
krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang
rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup
berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada
kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang
bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting.
Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.

Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan
modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan
diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi
krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari,
atau kehabisan makanan selagi camping.

Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi,
beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak
enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat
kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil
mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh
diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak
naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu
digembleng.

Kerja keras

Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain
berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran,
memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul
memiliki "virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan
nilai-nilai "virus" n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan,
misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang
enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat
dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu
bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.

Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang
semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang.
Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa
bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).

Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas,
ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang
benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus
benar pula menempuhnya di mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh
superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin.
Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan
menyuntikkan "vaksin" hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego
agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah
tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau
kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu
legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar
kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa.


Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis
Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan
Dikutip dari: "resonansi_2002" <resonansi_2002@yahoo.co.uk>

tamanlangit2020 wrote on Nov 15, '07
Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin ...tapi itu salah siapa.....kemiskinan identik dengan kebodohan/malas....kalo seandaianya orang miskin itu sadar kenapa dia miskin....pasti tidak akan banyak orang miskin....orang miskin juga manusia...manusia punya akal dan pikiran...dia bisa bercermin kenapa orang bisa kaya paling tidak berkecukupan....kenapa orang bisa dan kenapa kita tidak...Tuhan telah meanugerahkan akal dan pikiran serta tenaga...tingagal simanusia itu sendiri bisa nggak memamfaatkan karunia yg telah diberikan oleh Allah...Kita harus mencontoh sistem keuangan yang diterapkan oleh orang china di indonesia...kenapa...jarang orang china jarang yang miskin di indonesia...karena dari lahir keuangan mereka sudah dijatahin oleh orang tuanya hingga kalo dewasa mereka sudah punya modal.....paling tidak berkecukupan...seandainya...orang kita banyak menguikuti langkah itu/menjalankan sistem yang yg dijalankan oleh keluarga china yang ada di indonesi niscaya kemiskina pasti akan berkurang...
Contoh :
Si Amat supir angkot
penghasilan bersihnya 1 hari minimal bersih 50,000/hari
Istri si Amat sedang mengandung/hamil
Nach bukankah seharusnya mulai di sini si Amat sudah bisa mengatur/menabung uang jatah buat si jabang bayi
ya gak usah banyak lah 1 hari
3,000x 30 harix 9 bulan = 810,000
Nach disaat putri/putra si Amat lahir sudah punya tabunga 810,000
di tahun pertama sampai keempat
3,000 x 30 hari x 48 buklan = 4,320,000
umur 4 tahun putra/putri si Amat sudah punya tabungan lebih kurang 5 jt
demikian seterusnya sampai putra dan putri si Amat sampai Dewasa
dengan catatan si Amat gak boleh malas dan terus berusaha bekerja dan uang tersebut gak boleh di ganggu gugat jadi untuk waktu jangka panjang hingga putra/putri si Amat dewasa
ya paling tidak disaat dewasa putrr/putri si Amat sudah punya modal
itu salah satu contoh untuk memberantas kemiskiana dari lahir....bersambung
zainalbakri wrote on Nov 17, '07
trims ya atas komennya yang panjang lebar :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help