Memaafkan
Putu Setia Orang yang tak pernah merasa bersalah dan tak pernah meminta maaf harus kita maafkan.
Mantan presiden Soeharto sakit. Jutaan orang sibuk. Puluhan dokter berada di dekatnya dan memasang berbagai mesin. Puluhan tokoh dan pejabat menengok. Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dipenuhi pesawat Hercules, entah siapa yang akan diterbangkan. Puluhan orang memasang tenda dan menaruh kursi di Astana Giribangun, Karanganyar, entah siapa pula yang akan dimakamkan.
Soeharto membaik, lalu drop lagi, lalu membaik lagi. Orang-orang bukan lagi sibuk, tapi sudah bingung. Jaksa Agung ke rumah sakit pukul dua dini hari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang lebih awal dari Malaysia, dan Amien Rais menggelar jumpa pers di rumahnya di Yogyakarta, agar kita--biasanya ditambahkan kata-kata "sebagai anak bangsa"--memaafkan Soeharto.
Luar biasa beradabnya orang-orang kita, anak-anak bangsa. Orang yang tak pernah merasa bersalah dan tak pernah meminta maaf harus kita maafkan.
Dulu, tatkala mantan presiden Soekarno sakit, Soeharto menjadi presiden. Jutaan orang diam. Tak ada puluhan dokter di dekat Bung Karno. Tak ada mesin apa pun, ventilator, pencuci darah, entah apa lagi. Obatnya hanya vitamin B12 dan B Kompleks. Dokter kepresidenan Mahar Mardjono menuliskan resep, tapi obatnya tak kunjung datang. Dokter tak bisa leluasa mengontrol Bung Karno karena ada larangan. Pejabat negeri pun tak ada yang berani datang, bahkan putra-putri Bung Karno dibatasi untuk besuk. Sang Proklamator bukan dirawat di rumah sakit, melainkan di sebuah rumah yang mentereng dari jalan raya, tapi laksana bui di dalamnya. Bung Karno yang sakit dilarang ke luar kamar, padahal ia mantan presiden.
Luar biasa biadabnya orang-orang kita, anak-anak bangsa. Tapi, tak ada tokoh, termasuk Amien Rais sekalipun, yang mencoba mengusulkan agar kita--sebagai anak bangsa--meminta maaf kepada Bung Karno.
Maaf, memaafkan, saling bermaafan beda nuansanya, meski kata dasarnya sama. Jika ada orang berkata kepada saya, "Maaf lahir batin," saya pun akan menjawab, "Sama-sama, maaf lahir batin pula." Ini hal yang sangat biasa, apalagi pada saat hari raya keagamaan. Begitu pula kalau ada orang berkata, "Maafkan saya, mungkin saya banyak salah," saya pun akan menjawab, "Tak apa-apa, saya juga begitu." Ini pun biasa, ya, namanya basa-basi. Tapi, jika ada orang mencari saya dan berkata, "Saya memaafkan Anda." Saya bisa tersinggung berat: "Apa salah saya, kok, Anda memaafkan saya? Kalau saya punya kesalahan, saya yang meminta maaf kepada Anda. Buktikan dulu kesalahan saya." Nah, bisa gawat jadinya.
Pernahkah Pak Harto meminta maaf kepada Bung Karno? Pernahkah Soeharto merasa salah memanipulasi Surat Perintah Sebelas Maret? Pernahkah Soeharto dipersalahkan mendirikan yayasan untuk kepentingan pribadinya? Pernahkah Soeharto dinyatakan salah karena kasus korupsi, kolusi, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya? Kalau tidak, kok, kita memaafkan Soeharto, hanya karena beliau sakit. Apakah orang sakit bisa disembuhkan oleh kata "maaf"?
Daripada sibuk, bingung, dan mungkin linglung, lebih baik rasanya kita--sebagai anak bangsa-berinisiatif meminta maaf kepada Bung Karno yang sudah tenang di dunia yang lain dan dimakamkan di tengah-tengah perumahan rakyat biasa di pinggir jalan perkampungan Kota Blitar. Adapun untuk Soeharto, kita tentu memaafkan--karena kita mencoba jadi bangsa beradab dan kita mengamalkan ajaran agama yang benar--jika beliau memang sudah mendapat predikat salah dan meminta maaf atas kesalahannya, entah itu lewat jalur formal (pengadilan), entah jalur informal (kebesaran hati).
koran tempo, minggu 20 jan 2008