Perjuangan Siti di Pelataran Parkir
Wanita itu memiliki nama yang indah. Siti Gandaria. Umurnya sudah melewati kepala empat, tepatnya 48 tahun. Di Kota Langsa, sebagian besar warga di sana mengenalinya. Karena setiap kali memarkirkan sepeda motor atapun mobil di sekitar Jalan Teuku Umar, ia akan selalu menghampiri. “Pak, tanda parkirnya,” katanya seraya menyerahkan selembar potongan kertas berwarna hijau. Pekerjaan sebagai tukang parkir, sudah dijalaninya selama empat tahun.
Siti mengaku tak punya pilihan. Suaminya sejak dulu tak punya pekerjaan tetap, sehingga setoran untuk belanja dapur kerap kali tak lancar diterimanya. “Kerja suami saya mocok-mocok pak. Kadang ada, kadang nggak. Sementara anak kami ada lima orang. Yang kecil masih tujuh tahun,” ujarnya lirih. Seketika mata Siti menerawang ke atap-atap pertokoan. Ia seperti sedang memutar kembali setiap episode kegetiran hidup yang telah dijalaninya bersama sang suami dan lima orang anak-anaknya.
“Sebentar ya pak,” ujarnya. Siti bangkit sambil meraih selembar kardus bekas kotak mie instan yang ditumpuk di sisinya. Sebuah sepeda motor yang baru diparkir oleh pemiliknya, langsung ditutup dengan kardus itu. Tak perlu baginya untuk meminta izin pada si pemilik sepeda motor. Itu merupakan pelayanan gratis yang diberikan kepada setiap pemilik kendaraan roda dua yang parkir di areal yang dijaganya.
Tak lama pemilik sepeda motor itu kembali lagi. Siti bergegas mengambil kardus miliknya. Si pemilik kendaraan merogoh kocek. Sekeping uang logam Rp 500 diberikan pada Siti. “Terima kasih pak,” katanya sambil menganggukkan kepala. Begitulah cara Siti bekerja. Warga Desa Alue Dua, Kecamatan Langsa Barat ini mengaku tak peduli meski sering kali ditatap hina oleh warga lain yang melihatnya. Bagi Siti, setiap keeping uang logam yang dikumpul dari jam ke jam, merupakan rezeki yang dititipkan Allah bagi keluarganya.
“Tapi dulu saya sempat merasa risih. Lama kelamaan saya jadi terbiasa dan tidak peduli pada tatapan orang,” katanya. Pekerjaan sebagai tukang parkir, di Aceh memang belum lazim dilakoni kaum perempuan. Seperti halnya tukang ojek dan supir angkot. Tapi di kota-kota besar, dimana mencari setiap selembar rupiah lebih sulit dari pada di daerah ini, pekerjaan berat tak jarang dilakukan oleh kaum wanita.
Siang itu, Siti baru berhasil mengumpulkan sekitar Rp 17 ribu. Hasil bekerja sejak pagi itu lebih sedikit dari hari sebelumnya. “Biasa pak, kalau hujan ya cuma segini paling banyak”. Saat sedang merapikan lembar demi lembar uang pecahan seribu rupiah, seorang pengendara sepeda motor berhenti persis di depan Siti. “Kemari kamu” suara pria itu lantang memanggil. Siti bangkit dan berlari kecil menghampirinya. Siti langsung menyerahkan uang Rp 15 ribu pada pria itu.”Kok dikit hari ini?” Siti terdiam sesaat. ”Maaf pak, tadi pagi kan hujan,” jawabnya terbata. Pria itu bergegas tanpa berkata apapun.
“Itu tukang kutip parkir. Saya harus menyetor Rp 15 ribu setiap harinya pada pengurus Pemuda Pencasila,” katanya. Yang tersisa di kantong Siti sekarang hanya sekitar dua ribuan. Sebelum melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang parkir, Siti mengambil bekal yang dibawa dari rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 wib, saatnya untuk makan siang.” Makan dulu pak, mumpung nggak ada yang parkir,” ujarnya.
Siti masih punya beberapa jam sebelum ia harus kembali ke rumah untuk memasak bagi anak-anak dan suaminya. Ia berharap, menjelang sore masih ada warga yang datang dan memarkirkan kendaraannya. Siti harus lebih giat dan sabar menunggu. Maklum, empat orang anaknya saat ini masih duduk di bangku sekolah. Dua diantaranya dibangku SMA dan dua lainnya di bangku SMP. Sedangkan yang bungsu tidak sekolah.
Sebagai tukang parkir, Siti tak bisa berharap banyak. Bila sedang ramai dan cuaca cerah, paling banter ia hanya bisa membawa pulang Rp 20 ribu. Sementara bila sedang hujan, penghasilannya pun melorot.”Saya orang bodoh pak, sekarang ini saya sedang berjuang untuk masa depan anak anak saya agar tidak bodoh. Saya jalani ini dengan ikhlas,” katanya. Siti kembali bekerja. Kadang ia berlari, mengejar pemilik kendaraan yang engan membayar. Siti memang sedang berjuang. Ia sedang berjuang melawan kemiskinan. *