Blog EntryTrue Story: Catatan Seorang PramugariApr 17, '08 2:35 AM
for everyone
True story :

Catatan Seorang Pramugari

               Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena  bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari
Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul  sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk
naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi  tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan  tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia  sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia  takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat  menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya  dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu  kami mengetahui
demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa  sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir  jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di
kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali
ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya
karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak  mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar,  saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan
bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak  menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi  siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia
yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya
lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua
adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan  menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari  lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi  belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan  tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.





sumber: tidak diketahui

 


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
godreell wrote on Apr 17
Subhanallah,..!
membaca kisah ini tak terasa keluar air mata.
begitulah cinta orang tua pada anaknya serta sifat tulus orang desa yang jujur dan lugu, seberapa banyakkah orang yang masih mau belajar dari ketulusan dan kejujuran ini ?
zainalbakri wrote on Apr 17
Subhanallah,..!
membaca kisah ini tak terasa keluar air mata.
begitulah cinta orang tua pada anaknya serta sifat tulus orang desa yang jujur dan lugu, seberapa banyakkah orang yang masih mau belajar dari ketulusan dan kejujuran ini ?
terima kasih mas, sy juga terharu saat pertma sekali membacanya. dan saya ingin berbagi dengan yang lain, maka saya posting di mp ini. sayang, sy tidak tahu sumbernya.
ti2n wrote on Apr 17
duh.. terharu banget....
bayusutu wrote on Apr 17
T-T hiks....
jolbar wrote on Apr 17
hebaddddddd
elpusa wrote on Apr 17
thanks for sharing. Mengharukan banget.
Salam kenal ya...
dyahparamita wrote on Apr 17
*hiks....mengharukan sekali....
mustf wrote on Apr 17
inilah ketulusan yang tidak dibuat2/reka/kamuflase/klise dan tidak perlu mesin untuk mengawasi kejujuran yang diidam2kan oleh semua manusia dimuka bumi dimanpun dan siapapun dia berada mungkin saia mau kasih judul atawa tema untuk cerita mengahrukan ini "Kecintaan sang ayah dan kejujuran nya"
zainalbakri wrote on Apr 18
ti2n said
duh.. terharu banget....
sama mbak, saya juga
zainalbakri wrote on Apr 18
elpusa said
thanks for sharing. Mengharukan banget.
Salam kenal ya...
sama-sama. salam kenal juga dari aceh
zainalbakri wrote on Apr 18
*hiks....mengharukan sekali....
semoga kita bisa belajar dari cerita ini
zainalbakri wrote on Apr 18
mustf said
inilah ketulusan yang tidak dibuat2/reka/kamuflase/klise dan tidak perlu mesin untuk mengawasi kejujuran yang diidam2kan oleh semua manusia dimuka bumi dimanpun dan siapapun dia berada mungkin saia mau kasih judul atawa tema untuk cerita mengahrukan ini "Kecintaan sang ayah dan kejujuran nya"
terima kasih udah mampir
imazahra wrote on Apr 18
Chicken soup for the soul yg luar biasa, ck ck ck...
sayang anonim penulisnya :-p
zainalbakri wrote on Apr 19
Chicken soup for the soul yg luar biasa, ck ck ck...
sayang anonim penulisnya :-p
ya mbak, soalnya story nya dapat dari email yd dikirim teman, katanya dari milis sebelah. :)
snataly wrote on May 4
tfs ya mas.. bagus sekali ceritanya..nambah pesan moral buat semua..
zainalbakri wrote on May 4
snataly said
tfs ya mas.. bagus sekali ceritanya..nambah pesan moral buat semua..
sama sama mbak, jangan lupa juga untuk berbagi ya jika punya story yg lain. salam hangat dari serambi mekkah
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help