 Aku rindu pada barisan laki-laki di kala shubuh, Yang berbaris rapi dalam satu shaf yang lurus Aku rindu pada gerakan tubuh mereka Dalam kebersamaan...
Aku rindu pada azan yang berkumandang Yang mampu mendorong untuk bangkit dan menanggalkan selimut Berbalut air dingin, membasuh beberapa bagian tubuh Bersujud di depan Ilahi Di surau yang tinggi, dengan enam anak tangga dari kayu yang menghitam
Aku rindu bersalaman dengan ustadz Yang selalu mengenakan peci putih Dan telah lebih 18 tahun memimpin shalat Saat aku baru disunat dan pertama diajak ayah shalat berjamaah ... Tangannya yang berkeriput selalu basah oleh air wudhuk
Sekarang... Dentuman meriam dan desingan peluru yang saling menerjang Dari utara ke selatan dan kadang dari barat ke timur Membuat kami takut Sangat takut... Kami berlindung di balik dinding papan yang rapuh Dan tak lagi hadir untuk membangunsebuah shaf yang rapat
Karena di tengah malam, deru roda kenderaan mengangkut tentara Kerap membuyarkan mimpi indah kami Mimpi untuk meniti hidup dalam batas waktu yang ada Aku rindu pada shaf laki-laki yang rapi... Yang kini hanya tinggal cerita...
Sejak mesin perang mulai berdatangan ke sini, Surau kami menjadi sepi. Tak ada lagi yang berani datang dengan senter dan kain sarung Juga ustadz yang selalu ditemani sebuah tongkat rotan
Aku rindu pada shaf laki-laki yang khusyuk memuja Tuhan Ketika banyak orang di tempat lain tertidur pulas
Lhokseumawe, Aceh 27 Juli 2003 
| |
|